Harga Emas Menguat, Aset Safe Haven Kian Diburu

Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Senin (2/3/2026), setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan besar ke Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Dikutip dari Reuters, eskalasi tersebut memperparah ketegangan geopolitik dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi global, sehingga mendorong lonjakan permintaan terhadap aset safe haven.

Harga emas hari ini melejit 2,2% menjadi US$ 5.378,88 per ons saat berita ditulis Pukul 13.25 WIB, setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari empat pekan. Bahkan, pada awal sesi, harga logam mulia tersebut sempat melonjak hingga 2%.

Situasi memanas setelah Israel melancarkan gelombang serangan lanjutan ke Teheran pada Minggu. Iran pun membalas dengan rentetan serangan rudal tambahan, sehari setelah kematian Ayatollah Ali Khamenei mengguncang kawasan Timur Tengah dan pasar global.

Analis pasar keuangan senior Capital.com Kyle Rodda menilai, konflik kali ini memiliki potensi eskalasi yang lebih panjang dibandingkan sebelumnya. Menurutnya, kedua pihak memiliki insentif kuat untuk terus meningkatkan ketegangan.

“Tidak seperti eskalasi sebelumnya, kali ini ada dorongan yang cukup kuat bagi kedua belah pihak untuk terus meningkatkan konflik. Risiko lingkungan pasar yang kacau, penuh ketidakpastian, dan volatil bisa berlangsung lebih dari beberapa hari. Dalam kondisi seperti ini, prospek emas menjadi sangat positif,” ujarnya.

Sebagai aset lindung nilai tradisional, emas telah mencetak rekor demi rekor sepanjang tahun ini di tengah meningkatnya ketidakpastian politik dan ekonomi global. Reli terbaru memperpanjang lonjakan sekitar 64% sepanjang 2025, yang didorong oleh pembelian besar-besaran bank sentral, arus masuk yang kuat ke exchange-traded funds (ETF), serta ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter AS.

Pekan lalu, JP Morgan dan Bank of America kembali menegaskan proyeksi bahwa harga emas berpotensi menembus level psikologis US$ 6.000 per ons. Bahkan, J.P. Morgan memperkirakan permintaan yang kuat dari bank sentral dan investor dapat mendorong harga emas mencapai US$ 6.300 per ons troi pada akhir 2026.

Analis independen Ross Norman menyebut emas sebagai barometer terbaik untuk mencerminkan tingkat ketidakpastian global. “Kita memasuki era baru ketidakpastian geopolitik. Harga emas kemungkinan akan kembali mengalami penyesuaian ke rekor tertinggi baru,” katanya.

Di sisi lain, data terbaru menunjukkan harga produsen AS pada Januari naik lebih tinggi dari perkiraan, mengindikasikan potensi peningkatan inflasi dalam beberapa bulan mendatang. Investor juga akan mencermati sejumlah data ketenagakerjaan AS pekan ini, termasuk laporan ADP, klaim pengangguran mingguan, serta data non-farm payrolls.

Harga perak spot naik 1,4% menjadi US$ 95,05 per ons setelah sebelumnya mencatat kenaikan bulanan pada Februari 2026.


sumber : investor.id