Harga Emas Melonjak, Setelah Alami Aksi Jual Besar-besaran

Harga emas dunia melonjak pada Selasa (24/3/2026), setelah mengalami aksi jual besar dalam beberapa waktu terakhir. Namun, logam mulia ini masih dibayangi tren bearish akibat penguatan dolar dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS).

Harga emas spot melonjak 1,53% dan ditutup di level US$ 4.474,3 per ons, padahal di awal perdagangan sempat menyentuh level terendah intraday.

Dikutip dari CNBC internasional, harga emas menguat di tengah penguatan dolar AS. Indeks dolar tercatat naik 0,28%. Sejak konflik geopolitik memanas, indeks dolar bahkan telah menguat sekitar 3%. Kondisi ini mengurangi minat terhadap emas sebagai aset lindung nilai.

Harga emas juga tercatat telah turun sekitar 20% sejak mencapai rekor tertinggi US$ 5.598,02 per ons pada akhir Januari 2026. Bahkan, pekan lalu, emas merosot hampir 10%, menjadi penurunan terburuk sejak September 2011.

Pelaku pasar kini meninjau ulang ekspektasi kebijakan moneter AS. Inflasi yang masih tinggi membuat peluang penurunan suku bunga The Fed semakin kecil, sehingga menjaga yield obligasi tetap tinggi.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun tercatat naik sekitar 3 basis poin ke level 4,36%. Kenaikan yield ini juga menjadi tekanan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.

Meski tekanan jangka pendek masih kuat, pelaku industri tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang emas. Faktor fundamental seperti risiko geopolitik, defisit fiskal, serta diversifikasi cadangan oleh bank sentral global dinilai masih akan menopang harga emas ke depan.


sumber : investor.id