Harga Emas Melesat, Hingga Dekati Rekor Sepanjang Masa

Harga emas dunia kembali melesat hingga mendekati rekor tertinggi sepanjang masa pada perdagangan Selasa (6/1/2026). Penguatan ini ditopang meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah memanasnya ketegangan geopolitik global, menyusul penangkapan Presiden Venezuela oleh Amerika Serikat (AS).

Harga emas spot melejit 1,04% dan ditutup di level US$ 4.494,5 per ons, melanjutkan lonjakan hampir 3% pada sehari sebelumnya. Dengan penguatan tersebut, harga emas kian mendekati rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di US$ 4.549,56 per ons yang tercatat pada 26 Desember 2025 lalu.

Analis senior Kitco Metals Jim Wyckoff menilai, pelaku pasar logam mulia saat ini melihat risiko yang lebih besar dibandingkan pelaku pasar saham dan obligasi. Ia menyebut operasi militer AS di Venezuela pada akhir pekan lalu telah mendorong permintaan berkelanjutan terhadap emas dan perak sebagai aset lindung nilai.

“Trader logam mulia melihat lebih banyak risiko ke depan dibandingkan trader saham dan obligasi saat ini,” ujar Wyckoff dikutip dari CNBC internasional.

Ketegangan meningkat setelah mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang ditangkap AS dan dibawa ke New York, menyatakan tidak bersalah atas dakwaan narkotika pada Senin waktu setempat.

Sebagai aset lindung nilai tradisional, emas mencatatkan kinerja impresif sepanjang tahun lalu dengan kenaikan mencapai 64,4%. Capaian tersebut menjadi performa tahunan terbaik emas sejak 1979.

Selain faktor geopolitik, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada rilis data ketenagakerjaan bulanan AS yang akan diumumkan Jumat mendatang. Laporan tersebut diperkirakan menunjukkan penambahan 60.000 lapangan kerja pada Desember, sedikit melambat dibandingkan 64.000 pada bulan sebelumnya.

Berdasarkan data LSEG, pelaku pasar kini memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga sebanyak dua kali sepanjang tahun ini. Presiden The Fed Richmond Tom Barkin menegaskan, kebijakan suku bunga ke depan harus disesuaikan secara cermat guna menyeimbangkan risiko pengangguran dan inflasi.

Emas, yang tidak memberikan imbal hasil, umumnya diuntungkan dalam lingkungan suku bunga rendah.

Ke depan, Morgan Stanley memproyeksikan harga emas berpotensi melonjak hingga US$ 4.800 per ons pada kuartal IV-2026. Proyeksi tersebut didukung oleh tren penurunan suku bunga, perubahan kepemimpinan di The Fed, serta kuatnya pembelian dari bank sentral dan institusi investasi.

Di sisi lain, harga perak spot yang sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di US$ 83,86 per ons pada 29 Desember 2025 lalu, melonjak 6,17% dan ditutup di level US$ 81,2 per ons. Sepanjang 2025, perak mencatatkan lonjakan tahunan terbesar dengan kenaikan mencapai 147%, didorong permintaan industri dan investor.


sumber : investor.id