Harga Emas Melemah, Tertekan Penguatan Minyak dan Dolar AS

Harga emas melemah pada perdagangan Kamis (26/3/2026), tertekan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) serta kenaikan harga minyak yang menjaga kekhawatiran inflasi tetap tinggi.

Di saat yang sama, pelaku pasar juga kembali menilai peluang tercapainya gencatan senjata di Timur Tengah.

Berdasarkan data pasar, harga emas spot turun 2,7% dan ditutup di level US$ 4.377,96 per ons.

Penguatan dolar AS membuat emas yang dihargakan dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga menekan permintaan.

Analis senior Kitco Metals, Jim Wyckoff, menyebutkan tekanan terhadap emas datang dari kekhawatiran suku bunga yang tetap tinggi serta inflasi.

“Jika konflik berlanjut, harga bisa turun di bawah US$ 4.000. Namun jika terjadi gencatan senjata dan harapan pemangkasan suku bunga kembali menguat, harga berpotensi naik mendekati US$ 5.000,” ujarnya.

Sebagai aset lindung nilai terhadap ketidakpastian dan inflasi, emas biasanya kehilangan daya tarik saat suku bunga tinggi. Kenaikan imbal hasil meningkatkan biaya peluang untuk memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Di sisi lain, harga minyak naik seiring kekhawatiran konflik Timur Tengah akan berlangsung lebih lama dan berpotensi mengganggu pasokan. Lonjakan harga energi ini berisiko memperparah tekanan inflasi global.

Seorang pejabat senior Iran menyatakan proposal AS untuk mengakhiri hampir empat pekan konflik dinilai sepihak dan tidak adil.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran mengizinkan 10 kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz sebagai bentuk itikad baik dalam negosiasi.

Sejak konflik AS-Israel dengan Iran pecah pada 28 Februari 2026, harga emas telah turun sekitar 17%.

Analis Intesa Sanpaolo menilai pergerakan spekulatif dalam beberapa kuartal terakhir telah mengurangi efektivitas emas dan perak sebagai aset safe haven dalam jangka pendek.

Kebutuhan likuiditas mendorong aksi jual kedua logam tersebut pada fase awal konflik.

Dari data ekonomi, klaim pengangguran mingguan AS tercatat naik tipis pekan lalu.

Hal ini mengindikasikan pasar tenaga kerja masih stabil dan memberi ruang bagi bank sentral AS (The Fed) untuk menahan suku bunga sambil memantau risiko inflasi akibat perang.

Untuk logam mulia lainnya, harga perak spot turun 5% dan ditutup di US$67,92 per ons.


sumber : investor.kontan.co.id