Harga Emas Melemah, Tertekan Kekhawatiran Inflasi yang Tinggi
Harga emas dunia melemah pada perdagangan Senin (16/3/2026). Kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah dapat memicu inflasi yang lebih tinggi dan membuat suku bunga The Fed tetap tinggi lebih lama menekan pergerakan logam mulia tersebut.
Harga emas spot turun 0,2% dan ditutup di menjadi US$ 5.006,21 per ons. Dalam sesi perdagangan sebelumnya, emas bahkan sempat menyentuh level terendah sejak 19 Februari 2026.
Dikutip dari Reuters, pelemahan harga emas terjadi meski dolar AS sempat mundur dari posisi tertinggi dalam 10 bulan terakhir. Dolar yang lebih lemah biasanya membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang AS menjadi lebih menarik bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
Senior Market Strategist RJO Futures Bob Haberkorn mengatakan, kenaikan harga minyak berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi. Kondisi ini dapat membuat The Fed menunda pemangkasan suku bunga.
“Jika harga minyak naik, inflasi juga berpotensi meningkat. Dalam situasi itu, The Fed kemungkinan tidak akan seagresif enam bulan lalu dalam menurunkan suku bunga. Hal ini menjadi sentimen negatif bagi harga emas,” ujar Haberkorn.
Meski demikian, Haberkon tetap optimistis terhadap prospek emas dalam jangka panjang. Menurut dia, masih banyak dana investor yang belum masuk ke pasar logam mulia.
“Saya masih sangat bullish terhadap emas, mengingat kondisi global saat ini. Banyak dana masih menunggu momentum untuk masuk ke pasar, dan saya memperkirakan harga emas bisa mencapai US$ 6.000 per ons,” tambahnya.
Secara umum, emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian. Namun, logam mulia ini cenderung kurang menarik saat suku bunga tinggi karena tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen investasi lainnya.
Di sisi lain, harga minyak dunia pada Senin turun, tetapi secara keseluruhan masih melonjak lebih dari 60% sejak awal tahun. Kenaikan tajam ini dipicu konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang telah memasuki pekan ketiga tanpa tanda-tanda mereda.
Konflik tersebut juga menyebabkan penutupan Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Pelaku pasar kini menantikan sejumlah data penting dari Amerika Serikat pada pekan ini, termasuk data Producer Price Index (PPI), keputusan kebijakan moneter bank sentral AS, serta pidato Ketua The Fed Jerome Powell. Selain itu, investor juga akan mencermati data klaim pengangguran mingguan AS.
The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya dalam pertemuan yang berlangsung pada Selasa hingga Rabu waktu setempat. Sejak pertemuan terakhir, data ekonomi AS menunjukkan perubahan yang relatif terbatas pada prospek ekonomi dasar.
Di saat yang sama, The Fed juga sedang bersiap memasuki masa transisi kepemimpinan setelah Kevin Warsh yang dinominasikan oleh Presiden AS Donald Trump akan menggantikan posisi pimpinan The Fed.
Untuk logam mulia lainnya, harga perak naik 0,35% dan ditutup di level US$ 80,7 per ons.
sumber : investor.id
