Harga Emas Meledak di Tengah Tensi Konflik Geopolitik Timur Tengah
Harga emas dunia kembali meledak pada Senin (2/3/2026), di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar atas potensi konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Serangan udara Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran memicu ketidakpastian baru, sehingga mendorong investor memburu aset safe haven.
Harga emas spot melonjak 1,12% dan ditutup di level US$ 5.321,8 per ons. Kenaikan ini sempat lebih tinggi, bahkan melampaui 2% pada awal sesi perdagangan sebelum aksi profit taking memangkas kenaikannya.
Harga emas sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level US$ 5.598,02 per ons pada 29 Januari 2026 lalu.
Dikutip dari Reuters, indeks dolar AS menguat sekitar 1%, membuat emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Direktur perdagangan logam di High Ridge Futures David Meger mengatakan, pasar saat ini masih berupaya menilai apakah serangan tersebut akan berlanjut dalam beberapa pekan ke depan. “Ketidakpastian inilah yang kemungkinan besar akan terus menopang harga emas,” ujarnya.
Konflik udara antara AS dan Israel melawan Iran dilaporkan semakin meluas dan belum menunjukkan titik akhir. Israel menyerang Lebanon sebagai respons atas serangan Hizbullah, sementara Teheran terus meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah negara Teluk.
Presiden AS, Donald Trump, menyatakan gelombang serangan lanjutan dalam skala besar akan segera terjadi, meski tidak merinci detailnya.
Eskalasi ini turut mendorong lonjakan harga minyak dan gas. Sejumlah fasilitas energi di kawasan Timur Tengah terpaksa menghentikan operasional akibat serangan tersebut. Aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global, juga terganggu.
Analis SP Angel menilai, meningkatnya fragmentasi geopolitik mendorong bank sentral negara-negara BRICS mengurangi eksposur terhadap aset berdenominasi dolar AS dan beralih ke emas. Tren ini diperkirakan berlanjut dalam waktu dekat.
Sementara itu, BNP Paribas memperkirakan permintaan investasi emas fisik akan menjadi salah satu pendorong utama harga emas sepanjang tahun ini.
Emas yang dikenal sebagai aset lindung nilai saat ketidakpastian telah mencetak sejumlah rekor baru dan melonjak hampir 23% sepanjang tahun berjalan.
Reli harga emas ini melanjutkan kenaikan spektakuler sebesar 64% pada 2025, yang didorong oleh pembelian masif bank sentral, arus dana besar ke exchange-traded fund (ETF), serta pergeseran kebijakan moneter AS ke arah yang lebih longgar.
Namun, dampak konflik juga mulai terasa di pasar fisik. Tiga sumber industri logam menyebut arus keluar-masuk emas fisik melalui pusat perdagangan emas Dubai akan terganggu dalam beberapa hari ke depan. Terlebih, sejumlah maskapai membatalkan penerbangan akibat situasi keamanan yang memburuk.
Dari sisi data ekonomi, pelaku pasar pekan ini akan mencermati laporan ketenagakerjaan AS, termasuk data ADP employment, klaim pengangguran mingguan, serta laporan non-farm payrolls yang kerap menjadi indikator arah kebijakan suku bunga.
Berbeda dengan emas, harga perak spot justru anjlok parah 4,77% dan ditutup di US$ 89,31 per ons setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak 29 Januari 2026.
sumber : investor.id
