Harga Emas Kembali Terpukul, Seiring Penguatan Dolar AS

Harga emas dunia kembali terpukul pada perdagangan Senin (13/4/2026), seiring penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Ditambah lagi, meningkatnya kekhawatiran inflasi setelah pembicaraan damai antara AS dan Iran gagal mencapai kesepakatan.

Harga emas spot ditutup turun 0,17% dan ditutup di level US$ 4.740,26 per ons. Sepanjang sesi, emas sempat menyentuh level terendah sejak 7 April 2026.

Dikutip dari Reuters, penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama penekan harga emas. Kenaikan mata uang Negeri Paman Sam tersebut membuat emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.

Kepala Strategi Pasar Blue Line Futures Phillip Streible mengatakan, pergerakan pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh sentimen berita, terutama terkait harga minyak mentah.

“Pasar sangat dipengaruhi oleh perkembangan berita. Semua mata tertuju pada harga minyak, karena minyak akan menentukan inflasi dan pada akhirnya memengaruhi kebijakan suku bunga bank sentral,” ujar Streible.

Ketegangan geopolitik meningkat setelah negosiasi damai antara AS dan Iran runtuh pada akhir pekan. Militer AS dilaporkan berencana memblokade kapal-kapal yang keluar dari pelabuhan Iran. Sebagai respons, Teheran mengancam akan membalas dengan menargetkan pelabuhan negara-negara tetangga di kawasan Teluk.

Situasi tersebut mendorong lonjakan harga minyak dunia, yang pada gilirannya memicu kekhawatiran inflasi. Kondisi ini mempersempit ruang bagi bank sentral, termasuk The Fed, untuk memangkas suku bunga.

Padahal, suku bunga yang tetap tinggi cenderung mengurangi daya tarik emas, mengingat logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil (zero yield), meskipun sering dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi.

Berdasarkan data CME FedWatch Tool, pasar kini memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga AS hanya sekitar 29% hingga akhir tahun, turun dari sekitar 40% pada bulan sebelumnya.

Sejak konflik antara AS dan sekutunya melawan Iran pecah pada 28 Februari lalu, harga emas tercatat telah turun lebih dari 10%.

Meski demikian, analis SP Angel menilai pelemahan harga emas akibat perang justru berdampak positif dalam jangka panjang. “Penurunan yang dipicu oleh konflik ini dapat dianggap sehat untuk prospek jangka panjang emas, karena mengurangi posisi spekulatif di pasar,” tulis analis SP Angel.

Di sisi lain, harga perak spot turun 0,01% dan ditutup di level US$ 75,54 per ons. Namun, prospek permintaan perak dinilai tetap kuat, terutama didorong oleh kebutuhan industri energi terbarukan.

Strategis pasar Sprott Asset Management, Paul Wong, menyebut ketidakpastian pasokan minyak berpotensi mendorong investasi pada energi surya, yang pada akhirnya meningkatkan permintaan perak untuk panel fotovoltaik.


sumber : investor.id