Harga Emas Kembali Meroket, Lanjutkan Cetak Rekor Tertinggi

Harga emas dunia kembali meroket ke rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) lagi pada perdagangan Selasa (27/1/2026). Penguatan itu seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global yang mendorong investor memburu aset lindung nilai (safe haven).

Harga emas spot melonjak 3,45% dan ditutup di level US$ 5.181,08 per ons, setelah sempat mencetak rekor tertinggi di level 5.190,29 per ons. Sehari sebelumnya, harga emas untuk pertama kalinya menembus level psikologis US$ 5.000 per ons.

Dikutip dari CNBC internasional, sepanjang tahun ini, harga emas telah melesat lebih dari 18%, melanjutkan reli kuat yang terjadi sepanjang 2025. Kenaikan tersebut didorong kombinasi sejumlah faktor, mulai dari meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik, ekspektasi penurunan suku bunga AS, hingga meningkatnya pembelian emas oleh bank sentral di tengah tren dedolarisasi global.

Pelaku pasar kini menaruh perhatian pada pertemuan kebijakan The Fed selama dua hari yang dimulai Selasa waktu setempat. Suku bunga diperkirakan tetap dipertahankan, namun investor mencermati konferensi pers Ketua The Fed Jerome Powell pada Rabu, di tengah kekhawatiran yang meningkat terkait independensi bank sentral AS.

Sejalan dengan prospek tersebut, Deutsche Bank dan Societe Generale memproyeksikan harga emas berpotensi mencapai US$ 6.000 per ons hingga akhir tahun ini.

Lonjakan minat terhadap logam mulia juga tercermin dari data CME Group. Kompleks logam di bursa tersebut mencatat rekor transaksi harian sebanyak 3.338.528 kontrak pada 26 Januari 2026, melampaui rekor sebelumnya sebesar 2.829.666 kontrak yang tercatat pada 17 Oktober 2025.

Tak hanya emas, harga perak juga naik tajam. Perak spot melesat 8,04% dan ditutup di level US$ 111,96 per ons, setelah sehari sebelumnya menyentuh rekor tertinggi US$ 117,69 per ons. Sepanjang 2026, harga perak telah naik lebih dari 55%, melanjutkan reli spektakuler tahun lalu yang mencapai 146%.

“Ke depan, volatilitas masih akan tinggi dengan risiko koreksi tajam pada harga perak,” ujar Widmer dari Bank of America. Meski demikian, ia menilai fundamental yang kuat serta arus masuk dana ke exchange-traded fund (ETF) berpotensi menopang harga perak hingga target US$ 170 per ons.

Citi pun menaikkan proyeksi harga perak jangka pendek menjadi US$ 150 per ons, dari sebelumnya US$ 100 per ons.


sumber : investor.id