Harga Emas Kembali Menguat, Jelang Rilis Data Ketenagakerjaan AS

Harga emas dunia kembali menguat pada Kamis (8/1/2026), setelah turun tajam pada perdagangan sebelumnya. Penguatan ini terjadi di saat investor menunggu data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang diperkirakan akan memberikan arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.

Dikutip dari Reuters, namun, tekanan jangka pendek dari penyesuaian berat komoditas dalam indeks global membatasi potensi kenaikan lebih lanjut.

Harga emas menguat dan ditutup di US$ 4.477,2 per ons menjelang rilis data tenaga kerja non-farm payrolls pada Jumat (9/1/2026), usai sempat melemah di awal sesi perdagangan.

Analis pasar mencatat, penyesuaian tahunan indeks komoditas seperti Bloomberg Commodity Index dan S&P GSCI yang dilakukan pekan ini telah mendorong aksi jual untuk menyesuaikan bobot komoditas. Dampaknya, emas dan logam mulia lain mengalami tekanan jual sementara karena investor harus menyeimbangkan portofolio mereka.

“Akan ada tekanan pada harga emas dan perak selama beberapa sesi ke depan saat indeks komoditas itu disesuaikan,” ujar seorang analis pasar komoditas.

Data tenaga kerja AS menjadi fokus utama pasar. Survei Reuters memperkirakan penambahan sekitar 66.000 pekerjaan baru pada Desember 2025, dibanding bulan sebelumnya sebesar 64.000. Tingkat pengangguran diperkirakan turun tipis dari 4,6% menjadi 4,5%. Data ini krusial karena akan membantu investor membaca arah kebijakan suku bunga oleh The Fed.

Saat ini, pasar telah memperkirakan kemungkinan dua kali pemangkasan suku bunga sepanjang 2026, dan emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil biasanya mendapat dukungan dari lingkungan suku bunga rendah.

Sebelumnya, data mingguan menunjukkan klaim tunjangan pengangguran AS meningkat moderat, sementara data pekerjaan swasta juga melambat, mengisyaratkan permintaan tenaga kerja yang melambat. Hal ini turut memengaruhi ekspektasi suku bunga pasar.

Di sisi geopolitik, pasar juga terus mencermati ketegangan global yang ikut memberi dukungan kepada emas sebagai safe haven. Termasuk laporan tentang penyitaan dua kapal tanker yang terkait dengan Venezuela di Samudera Atlantik serta diskusi AS soal kemungkinan membayar sejumlah wilayah untuk mendorong langkah politik tertentu.

Analis di HSBC bahkan memperkirakan harga emas dapat menembus US$ 5.000 per ounce pada paruh pertama 2026, didorong oleh risiko geopolitik global dan melonjaknya utang fiskal di banyak negara.

Tidak hanya emas, harga logam mulia lain juga bergerak melemah. Harga perak ambles 1,6% dan ditutup di level US$ 76,94 per ons.


sumber : investor.id