Harga Emas Kembali Melonjak, Setelah Sempat Terkoreksi di Awal Pekan

Harga emas dunia kembali melonjak tajam pada perdagangan Jumat (27/3/2026), setelah sempat terkoreksi di awal pekan. Aksi borong saat koreksi oleh investor menjadi pendorong utama, di tengah perhatian pasar terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah.

Harga emas spot tercatat melejit 3,12% dan ditutup di level US$ 4.514,36 per ons.

Senior Market Strategist RJO Futures Daniel Pavilonis mengatakan, koreksi yang terjadi membuat harga emas sempat turun di bawah rata-rata pergerakan 200 hari (200-day moving average). “Hal itu menjadi momentum menarik untuk membeli,” ungkapnya dikutip dari CNBC internasional.

Sebelumnya, pada awal pekan, harga emas sempat menyentuh level terendah dalam empat bulan di posisi US$ 4.098,7 per ons.

Ke depan, Pavilonis memperkirakan harga emas akan bergerak naik secara bertahap dalam beberapa pekan ke depan. Namun, arah pasar tetap sangat bergantung pada perkembangan konflik Iran. Jika ketegangan mereda, selera risiko investor berpotensi kembali meningkat.

Di sisi lain, harga minyak dunia masih bertahan di atas US$ 110 per barel. Hal ini terjadi meskipun Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperpanjang tenggat waktu bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, setelah Teheran menolak proposal damai dari AS.

Sementara itu, konflik yang telah memasuki pekan keempat ini terus meluas di kawasan Timur Tengah dan mulai berdampak pada ekonomi global. Lonjakan harga energi dan pupuk memicu kekhawatiran inflasi yang semakin tinggi.

Kenaikan inflasi tersebut turut mengubah ekspektasi kebijakan moneter. Pelaku pasar kini melihat peluang kenaikan suku bunga The Fed semakin besar. Kondisi ini umumnya menjadi sentimen negatif bagi emas karena meningkatkan biaya peluang untuk memegang aset tanpa imbal hasil.

Berdasarkan data CME Group FedWatch Tool, pelaku pasar bahkan telah menghapus ekspektasi penurunan suku bunga AS pada 2026. Sebelumnya, pasar memperkirakan akan ada dua kali pemangkasan suku bunga sebelum konflik pecah.

Meski demikian, prospek jangka menengah emas masih dinilai positif. Bank investasi Commerzbank menaikkan proyeksi harga emas hingga akhir tahun menjadi US$ 5.000 per ons, dari sebelumnya US$ 4.900 per ons. Bank tersebut menilai koreksi harga baru-baru ini tidak akan berlangsung lama.

Commerzbank juga memperkirakan konflik Iran akan berakhir pada musim semi, yang berpotensi meredakan tekanan inflasi. Dengan demikian, The Fed diperkirakan kembali melanjutkan penurunan suku bunga pada akhir tahun ini, dengan total pemangkasan sekitar 75 basis poin hingga pertengahan tahun depan.

Tak hanya emas, logam mulia lainnya juga mencatat penguatan. Harga perak spot naik 3,09% dan ditutup di US$ 70,02 per ons.


sumber : investor.id