Harga Emas Jatuh, Seiring Penguatan Dolar AS dan Kekhawatiran Inflasi Global
Harga emas dunia jatuh 1% lebih pada perdagangan Senin (9/3/2026). Pelemahan ini diperkirakan akan berlanjut seiring menguatnya Dolar Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya kekhawatiran inflasi global.
Harga emas hari ini terlihat jatuh 1,07% ke level US$ 5.100,23 per ons saat berita ditulis Pukul 13.55 WIB, setelah sebelumnya sempat menguat pada akhir pekan lalu.
Tekanan terhadap logam mulia masih cukup kuat seiring dengan penguatan mata uang dolar dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Berdasarkan analisis teknikal, pergerakan emas saat ini masih menunjukkan kecenderungan bearish dalam timeframe H1.
Kombinasi pola candlestick yang terbentuk bersama indikator Moving Average mengindikasikan bahwa tekanan jual masih mendominasi pasar. Kondisi ini menunjukkan bahwa momentum penurunan masih berpotensi berlanjut apabila tidak terdapat katalis kuat yang mampu mendorong harga emas kembali menguat dalam waktu dekat.
Dari sisi fundamental, pasar saat ini juga tengah mencermati berbagai faktor eksternal yang dapat memengaruhi arah pergerakan emas. Salah satunya adalah lonjakan harga minyak mentah yang memicu kekhawatiran inflasi di AS.
Kenaikan inflasi berpotensi membuat The Fed mempertahankan suku bunga pada level tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.
Kebijakan suku bunga tinggi biasanya menjadi faktor negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen investasi berbunga. Oleh karena itu, investor cenderung beralih ke aset berbasis dolar yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.
Selain itu, pelaku pasar juga menunggu rilis data inflasi Consumer Price Index (CPI) AS yang dijadwalkan pada Rabu (11/3/2026). Data tersebut akan menjadi indikator penting untuk mengukur arah kebijakan moneter The Fed ke depan.
Saat ini, banyak ekonom memperkirakan bahwa bank sentral AS kemungkinan akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 17–18 Maret mendatang. Bahkan sebagian analis memprediksi bahwa pemangkasan suku bunga baru berpotensi terjadi pada pertengahan tahun 2026, sekitar bulan Juni atau Juli.
Di sisi ain, data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan sempat memberikan dukungan sementara bagi harga emas. Laporan Nonfarm Payrolls (NFP) menunjukkan bahwa ekonomi AS kehilangan sekitar 92.000 pekerjaan pada bulan Februari, jauh di bawah ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan penciptaan sekitar 58.000 lapangan kerja.
Sementara itu, tingkat pengangguran juga naik menjadi 4,4% dari sebelumnya 4,3% pada Januari. Kondisi pasar tenaga kerja yang melemah ini berpotensi menekan nilai dolar AS dalam jangka pendek dan memberikan ruang penguatan bagi komoditas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar, termasuk emas.
Namun demikian, secara keseluruhan emas masih berada dalam tekanan. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS serta penguatan dolar secara luas membuat logam mulia ini diperkirakan akan mencatatkan pelemahan mingguan mendekati 2,5%.
Selain itu, data ekonomi lain seperti penjualan ritel AS yang mengalami kontraksi 0,2% secara bulanan turut menambah ketidakpastian terhadap prospek ekonomi global.
Secara teknikal, apabila tekanan bearish terus berlanjut, maka harga emas berpotensi turun lebih lanjut hingga mendekati level support di US$ 4.960 per ons. Level tersebut menjadi area penting yang perlu diperhatikan oleh para pelaku pasar dalam jangka pendek.
Namun, apabila harga gagal melanjutkan penurunan dan mengalami koreksi naik, maka potensi kenaikan terdekat diperkirakan berada di sekitar level resistance US$ 5.139 per ons.
Dengan mempertimbangkan kombinasi faktor teknikal dan fundamental yang ada saat ini, pergerakan harga emas diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah.
Investor dan trader disarankan untuk tetap mencermati perkembangan data ekonomi AS, arah kebijakan The Fed, serta dinamika geopolitik global yang dapat memicu volatilitas di pasar komoditas, khususnya emas.
sumber : investor.id
