Harga Emas Ditutup Melemah Tipis, Setelah Menguat di Awal Sesi
Harga emas dunia sempat menguat pada perdagangan Kamis (7/5/2026) di tengah optimisme pasar terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan hingga akhir perdagangan dan harga emas akhirnya ditutup melemah tipis.
Dikutip dari Reuters, harapan meredanya konflik di Timur Tengah sempat meredakan kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi dan prospek suku bunga tinggi berkepanjangan.
Harga emas ditutup melemah 0,08% di level US$ 4.687,06 per ons. Padahal di awal perdagangan, harga emas spot sempat menyentuh level tertinggi dalam dua pekan. Namun menjelang penutupan pasar, penguatan mulai terbatas seiring kembali naiknya harga minyak dunia dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Senior Market Strategist RJO Futures Bob Haberkorn mengatakan, pelaku pasar saat ini masih fokus mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah dan arah kebijakan suku bunga The Fed.
“Jika gencatan senjata bertahan dan perang dapat diakhiri, serta aktivitas perdagangan kembali normal dengan Selat Hormuz tetap terbuka, harga emas berpotensi menembus US$ 5.000 per ons,” ujar Haberkorn.
Sumber dan pejabat terkait menyebutkan AS dan Iran semakin dekat menuju kesepakatan sementara untuk menghentikan konflik. Meski demikian, sejumlah isu penting disebut masih belum menemukan titik temu.
Sentimen pasar kembali berubah setelah muncul laporan bahwa Iran tidak akan mengizinkan AS membuka kembali Selat Hormuz melalui skema yang dianggap “tidak realistis”. Laporan tersebut disampaikan Wall Street Journal dengan mengutip media pemerintah Iran, Press TV.
Kondisi itu mendorong harga minyak dunia kembali berbalik naik. Kenaikan harga energi dinilai berpotensi memicu inflasi lebih tinggi, sehingga bank sentral kemungkinan akan menunda pemangkasan suku bunga demi menjaga stabilitas harga.
Dalam kondisi suku bunga tinggi, emas cenderung menjadi kurang menarik karena tidak memberikan imbal hasil (yield). Meski begitu, logam mulia tetap dipandang sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian global.
Analis TD Securities memperkirakan harga emas masih berpeluang melanjutkan reli hingga menembus US$ 5.200 per ons apabila konflik mereda dan tekanan inflasi akibat lonjakan harga minyak mulai berkurang.
“Perubahan arah kebijakan The Fed menuju fokus pada lapangan kerja, disertai penurunan imbal hasil obligasi dan pelemahan dolar AS, serta kembali meningkatnya permintaan investor dan bank sentral dapat memicu tren bullish emas,” tulis TD Securities dalam risetnya.
Pelaku pasar kini menantikan rilis data ketenagakerjaan AS pada Jumat (8/5/2026) waktu setempat untuk mencari petunjuk arah kebijakan moneter The Fed sepanjang tahun ini.
Sementara itu, data terbaru menunjukkan bank sentral China kembali menambah cadangan emasnya pada April 2026. Ini menjadi bulan ke-18 berturut-turut China meningkatkan kepemilikan emas.
Untuk logam mulia lainnya, harga perak spot melonjak 1,4% dan ditutup di US$ 78,51 per ons, setelah menyentuh level tertinggi sejak 17 April 2026.
sumber : investor.id
