Harga Emas Ditutup Melemah, Tertekan Lonjakan Harga Minyak

Harga emas dunia ditutup melemah pada perdagangan Senin (20/7/2026), tertekan lonjakan harga minyak akibat eskalasi konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran yang kembali memicu kekhawatiran inflasi. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada akhir tahun.

Harga emas spot ditutup turun 0,24% menjadi $ 4.007,42 per troy ounce.

Pelemahan emas terjadi seiring kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sebesar 0,4% dan penguatan indeks dolar AS sebesar 0,2%. Kondisi tersebut membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang selain dolar.

Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah Garda Revolusi Iran mengklaim telah menyerang aset militer AS di kawasan Timur Tengah sebagai respons atas serangan udara Washington terhadap sejumlah kota di Iran. Di saat yang sama, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi.

Situasi tersebut mendorong harga minyak mentah Brent menyentuh level tertinggi dalam lebih dari satu bulan. Lonjakan harga energi memicu kekhawatiran inflasi akan kembali meningkat, sehingga memperbesar peluang suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama.

Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, mengatakan pasar kini lebih fokus pada dampak kenaikan harga energi terhadap prospek kebijakan moneter AS. “Ketegangan baru di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran bahwa data inflasi AS yang lebih rendah pekan lalu belum cukup untuk menghalangi The Fed menaikkan suku bunga lagi tahun ini,” ujarnya.

Komentar senada datang dari Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack, yang menilai suku bunga kemungkinan masih perlu dinaikkan untuk menekan inflasi yang tetap tinggi. Pernyataan tersebut menambah keyakinan pasar bahwa perdebatan mengenai kenaikan suku bunga akan kembali mengemuka pada pertemuan The Fed berikutnya.

Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 83%, naik dari 73% pada pekan lalu.

Meski demikian, Meger menilai, The Fed kemungkinan masih akan mengandalkan pengetatan neraca (balance sheet) sebelum kembali menaikkan suku bunga. Jika ekspektasi tersebut mulai diyakini pasar dalam satu hingga dua bulan ke depan, emas berpeluang kembali mendapat dukungan, sementara dolar AS berpotensi melemah.

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot justru naik 0,82% dan ditutup di $ 56,39 per troy ounce.

 

sumber : investor.id