Harga Emas Ditutup Anjlok, Tertekan Dua Sentimen Utama

Harga emas dunia kembali anjlok pada perdagangan Senin (29/6/2026). Logam mulia tersebut tertekan oleh dua sentimen utama, yakni memanasnya konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memicu lonjakan harga minyak, serta meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

Harga emas ditutup anjlok 1,78% menjadi $ 4.016,51 per troy ounce. Sebelumnya, emas sempat merosot lebih dari 2% pada awal perdagangan, setelah pekan lalu menyentuh level terendah dalam lebih dari tujuh bulan.

Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals Peter Grant mengatakan, pelaku pasar saat ini sangat mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, di tengah perubahan sikap The Fed yang semakin hawkish.

“Pasar sangat sensitif terhadap perkembangan di Timur Tengah. Ketegangan yang meningkat selama akhir pekan dan sikap The Fed yang semakin hawkish menjadi tekanan utama bagi harga emas,” ujar Grant dikutip dari Reuters.

Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah Iran meluncurkan rudal dan drone ke pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain pada Minggu.

Serangan itu terjadi hanya beberapa saat setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan kepemimpinan Iran apabila negara tersebut tidak mematuhi ketentuan dalam perjanjian damai final.

Aksi saling serang tersebut mendorong harga minyak mentah Brent menguat tajam. Lonjakan harga energi kemudian memicu kekhawatiran inflasi kembali meningkat sehingga memperbesar peluang The Fed menaikkan suku bunga.

Meski emas selama ini dikenal sebagai aset safe haven, kenaikan harga energi justru dapat menjadi sentimen negatif. Inflasi yang lebih tinggi membuat bank sentral cenderung mempertahankan suku bunga tinggi, sehingga mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Tekanan terhadap emas juga datang dari penguatan dolar AS yang berada di jalur mencatat kenaikan bulanan terbesar dalam hampir satu tahun. Dolar yang lebih kuat membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi investor di luar AS sehingga permintaan ikut melemah.

Pada pertemuan bulan ini, The Fed memang mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, para pembuat kebijakan masih memberi sinyal kemungkinan kenaikan suku bunga sekali lagi tahun ini karena inflasi tetap bertahan di atas target 2%.

Kini perhatian investor tertuju pada sejumlah data ekonomi penting AS, yakni laporan tenaga kerja versi ADP yang akan dirilis Rabu serta data nonfarm payrolls (NFP) pada Kamis. Kedua indikator tersebut diyakini akan menjadi petunjuk arah kebijakan moneter The Fed pada pertemuan berikutnya.

Grant menilai, harga emas masih berpotensi melanjutkan pelemahan apabila data tenaga kerja AS kembali menunjukkan ketahanan ekonomi. “Jika data ketenagakerjaan masih kuat, peluang The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama akan semakin besar. Itu bisa mendorong harga emas mencetak level terendah baru,” katanya.

Berdasarkan perhitungan pasar, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September kini mencapai sekitar 63%.

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak rontok 1,51% dan ditutup di $ 58,27 per troy ounce.


sumber : investor.id