Harga Emas dan Perak Melorot, Setelah Catatkan Kenaikan Dua Hari Beruntun
Harga emas dan perak dunia melorot pada perdagangan Selasa (10/2/2026), setelah mencatatkan penguatan dua hari beruntun. Pelemahan logam mulia terjadi seiring penguatan tipis dolar AS dari level terendah lebih dari sepekan, di tengah sikap wait and see investor menjelang rilis data ketenagakerjaan dan inflasi Amerika Serikat (AS).
Harga emas hari ini turun 0,68% ke level US$ 5.024,11 per ons saat berita ditulis Pukul 13.55 WIB. Padahal, sehari sebelumnya emas sempat menguat sekitar 2% seiring melemahnya dolar AS. Harga emas masih mencatatkan kenaikan sebesar 17,1% sepanjang 2026 dan sempat mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di US$ 5.598,02 per ons yang dicapai pada 29 Januari 2026.
Tekanan lebih dalam dialami perak. Harga perak spot anjlok 2,4% ke posisi US$ 81,31 per ons, setelah melonjak hampir 7% pada hari sebelumnya. Perak sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level US$ 121,61 per ons pada akhir Januari lalu.
Di sisi lain, pasar saham global menunjukkan penguatan. Indeks saham Wall Street ditutup menguat pada Senin (9/2/2026), dipimpin saham teknologi, seiring aksi bargain hunting setelah tekanan tajam pekan lalu. Yen Jepang juga menguat setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi meraih kemenangan telak dalam pemilu.
Dari sisi kebijakan, penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett menyatakan bahwa pertumbuhan lapangan kerja AS berpotensi melambat dalam beberapa bulan ke depan akibat perlambatan pertumbuhan angkatan kerja dan peningkatan produktivitas. Pernyataan ini turut menjadi bagian dari perdebatan kebijakan yang tengah berlangsung di The Fed.
Investor saat ini memperkirakan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing 25 basis poin pada 2026, dengan pemotongan pertama diproyeksikan terjadi pada Juni. Dalam lingkungan suku bunga rendah, emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga cenderung lebih diminati sebagai aset lindung nilai.
Pelaku pasar kini menanti rilis data ekonomi utama AS, yakni laporan penggajian non-pertanian (nonfarm payrolls) Januari yang akan diumumkan Rabu (11/2/2026), serta data inflasi pada Jumat. Data-data tersebut akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan moneter The Fed ke depan.
sumber : investor.id
