Harga Emas dan Perak Melemah, Seiring Meredanya Spekulasi Suku Bunga
Harga emas dan perak melemah pada perdagangan Kamis (12/2/2026) setelah dolar Amerika Serikat (AS) menguat menyusul rilis data ketenagakerjaan Januari yang lebih kuat dari perkiraan. Data tersebut meredam ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
Harga emas hari ini turun 0,35% ke US$ 5.064,75 per ons saat berita ini ditulis Pukul 14.15 WIB, setelah kemarin sempat melonjak lebih dari 1%.
Tekanan lebih dalam terjadi pada perak. Harga perak spot anjlok 1,29% ke US$ 83,14 per ons, setelah sehari sebelumnya melesat sekitar 4%.
Dikutip dari Reuters, penguatan dolar menjadi faktor utama penekan harga logam mulia. Indeks dolar AS melanjutkan reli setelah laporan ketenagakerjaan menunjukkan kondisi ekonomi AS yang masih solid. Dolar yang lebih kuat membuat harga emas dan perak, yang diperdagangkan dalam dolar AS, menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga menekan permintaan.
Data resmi menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS secara tak terduga meningkat pada Januari, sementara tingkat pengangguran turun ke 4,3%. Stabilitas pasar tenaga kerja ini dinilai memberi ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tetap tinggi lebih lama sambil memantau perkembangan inflasi.
Meski demikian, sejumlah ekonom menilai lonjakan data tenaga kerja tersebut kemungkinan melebih-lebihkan kondisi riil. Revisi data menunjukkan bahwa sepanjang 2025, ekonomi AS hanya menambah 181.000 lapangan kerja, jauh lebih rendah dari estimasi sebelumnya sebesar 584.000.
Survei Reuters memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga hingga masa jabatan Ketua The Fed Jerome Powell berakhir pada Mei, sebelum mulai memangkas suku bunga pada Juni. Namun, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa kebijakan moneter di bawah calon penerusnya, Kevin Warsh, berpotensi menjadi lebih longgar.
Pelaku pasar kini menantikan rilis klaim pengangguran mingguan pada Kamis serta data inflasi yang dijadwalkan keluar Jumat. Kedua data tersebut akan menjadi petunjuk penting arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.
Di sisi geopolitik, Presiden AS Donald Trump menyatakan belum ada kesepakatan definitif dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait langkah lanjutan terhadap Iran. Meski begitu, Trump menegaskan negosiasi dengan Teheran akan tetap berlanjut guna mencapai kesepakatan.
Dengan kombinasi sentimen ekonomi dan geopolitik tersebut, pergerakan harga emas dan perak dalam jangka pendek diperkirakan masih sensitif terhadap arah dolar AS dan ekspektasi kebijakan moneter he Fed.
sumber : investor.id
