Harga Emas dan Perak Kompak Terkoreksi, Setelah Sentuh ATH Kembali
Harga emas dunia terkoreksi pada Kamis (29/1/2026), setelah investor mengambil keuntungan usai sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH). Namun, emas ini tetap berada di jalur untuk mencatatkan performa bulanan terbaik sejak 1980-an.
Harga emas turun 0,85% dan ditutup di level US$ 5.371,00 per ons. Sepanjang sesi perdagangan, emas sempat menyentuh rekor tertinggi US$ 5.598,02.
“Terjadi aksi jual besar-besaran setelah logam mulia mencetak rekor tertinggi baru,” ujar Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures David Meger dikutip dari CNBC internasional.
Meski begitu, harga emas tetap melonjak sekitar 24% sepanjang bulan ini dan naik 7% selama pekan berjalan. UBS bahkan menaikkan proyeksi harga emas menjadi US$ 6.200 untuk kuartal I-III 2026, dengan perkiraan turun menjadi US$ 5.900 pada akhir 2026.
Permintaan emas kian meluas, dari investor kripto hingga bank sentral. “Logam mulia kini menjadi sorotan, dan investor selalu mencari tempat untuk mendapatkan return tinggi,” kata Managing Director GoldSilver Central Brian Lan.
Ketidakpastian geopolitik menambah tekanan pada pasar. Presiden AS Donald Trump mendorong Iran untuk bernegosiasi soal kesepakatan nuklir, sementara Teheran menegaskan ancaman balasan terhadap AS, Israel, dan sekutunya.
Selain itu, CEO Tether menyatakan akan mengalokasikan 10%-15% portofolio investasi perusahaan ke emas fisik. Sementara SPDR Gold Trust, ETF emas terbesar dunia, mencatat kepemilikan tertinggi hampir dalam 4 tahun terakhir.
Di sisi kebijakan moneter, The Fed mempertahankan suku bunga pada Rabu, dengan investor menunggu pengumuman pengganti Ketua The Fed Jerome Powell yang masa jabatannya berakhir Mei mendatang. Pasar memperkirakan The Fed akan menurunkan suku bunga berikutnya pada Juni.
Tak hanya emas, perak juga terkoreksi sebesar 1,16% dan ditutup di US$ 115,43 per ons setelah sempat menembus rekor tertinggi US$ 121,61. Namun, logam ini sudah melonjak lebih dari 60% sepanjang bulan ini, terdorong defisit pasokan dan aksi beli momentum.
sumber : investor.id
