Harga Emas dan Perak Jatuh, Tertekan Penguatan Dolar AS

Harga emas dunia jatuh pada perdagangan hari Senin (16/2/2026), tertekan penguatan dolar AS dan minimnya likuiditas akibat libur di sejumlah pasar utama global.

Harga emas spot jatuh 0,75% dan ditutup di US$ 4.994,95 per ons.

Dikutip dari Reuters, penurunan ini terjadi di tengah kondisi pasar yang relatif sepi. Bursa di Amerika Serikat tutup memperingati Presidents’ Day, sementara pasar di China dan sejumlah negara Asia lainnya juga libur dalam rangka Tahun Baru Imlek.

Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan, harga emas saat ini bergerak terbatas di sekitar level US$ 5.000 per ons. “Harga emas bergerak dalam kisaran US$ 5.000 per ons dalam sepekan terakhir, dengan likuiditas lebih rendah karena libur pasar,” jelasnya.

Selain faktor likuiditas, penguatan dolar AS turut membebani emas. Penguatan greenback membuat emas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga permintaan cenderung melemah.

Di sisi lain, data ekonomi AS terbaru menunjukkan sinyal beragam terkait arah kebijakan suku bunga. Inflasi konsumen naik lebih rendah dari perkiraan pada Januari, namun pertumbuhan lapangan kerja justru meningkat lebih kuat dari ekspektasi.

Presiden The Fed Bank of Chicago Austan Goolsbee menyatakan, suku bunga masih berpeluang turun, meski inflasi sektor jasa tetap tinggi. Pelaku pasar kini memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya, 18 Maret mendatang.

Secara fundamental, emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga cenderung lebih menarik saat suku bunga rendah. Namun ketidakpastian arah kebijakan moneter membuat pergerakan logam mulia menjadi lebih volatil.

Analis MarketPulse dari OANDA Zain Vawda mengatakan, prospek harga emas masih dinamis. “Saya menurunkan target harga emas jangka menengah dari US$ 5.500 per ons menjadi sekitar US$ 5.100 – 5.200 per ons untuk sementara, karena situasinya masih sangat cair,” ujarnya.

Sementara itu, harga perak spot turun 0,34% dan ditutup di US$ 76,71 per ons.

Vawda mengatakan, sebagai logam yang lebih sensitif terhadap siklus ekonomi, setiap tanda penguatan ekonomi akan mengurangi daya tarik perak sebagai aset safe haven dibandingkan emas. “Selain itu, data ketenagakerjaan yang kuat menunjukkan kebutuhan terhadap aset lindung nilai menjadi tidak terlalu mendesak,” tambah Vawda.


sumber : investor.id