Harga Emas dan Perak Hancur-hancuran di Tengah Spekulasi Ketua The Fed yang Baru

Harga emas dunia hancur-hancuran hingga nyungsep ke area US$ 4.800-an pada Jumat (30/1/2026). Koreksi tajam ini terjadi seiring menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) di tengah spekulasi penunjukan Ketua The Fed yang baru.

Harga emas spot ditutup ambrol 9,72% di level US$ 4.849,12 per ons.

Dikutip dari CNBC internasional, penurunan ini terjadi sehari setelah emas mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level US$ 5.598,02 per ons pada Kamis (29/1/2026). Meski terkoreksi tajam, harga emas masih berada di jalur kenaikan lebih dari 15% sepanjang Januari 2026, sekaligus mencatatkan kenaikan bulanan keenam secara beruntun dan menjadi yang terbesar sejak 1999.

Analis UBS Giovanni Staunovo menilai, tekanan jangka pendek terhadap harga emas dipicu oleh faktor politik moneter AS. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan akan mengumumkan calon Ketua The Fed yang baru pada Jumat, dengan mantan Gubernur The Fed Kevin Warsh disebut-sebut sebagai kandidat terkuat.

“Sejumlah faktor pendukung harga emas masih tetap ada. Namun, setelah reli kuat dalam beberapa pekan terakhir, fase konsolidasi seperti ini tergolong sehat,” ujar Staunovo, seraya menambahkan, potensi penunjukan Ketua The Fed baru memberi tekanan langsung terhadap pasar emas.

Warsh dikenal mendorong penyusutan neraca The Fed, pandangan yang dinilai berbeda dengan kecenderungan Trump yang lebih menyukai kebijakan moneter longgar.

Di sisi lain, dolar AS menguat pada Jumat, bangkit dari posisi terendah empat tahun yang dicapai awal pekan ini. Penguatan dolar membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang AS menjadi lebih mahal bagi pembeli global.

Dari pasar fisik, premi emas di India tercatat melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari satu dekade, didorong kuatnya permintaan investasi menjelang potensi kenaikan bea masuk. Sementara itu, premi emas di China juga naik seiring meningkatnya permintaan investasi dan perhiasan.

Analis independen Ross Norman memperkirakan tekanan harga emas masih berlanjut dalam jangka pendek. “Kami melihat emas berpotensi turun lebih dalam dari level saat ini. Namun, pemulihan tetap terbuka dengan rata-rata harga US$ 5.375 per ons pada 2026 dan berpotensi mencapai puncak US$ 6.400 per ons pada kuartal IV,” ujarnya.

Koreksi tajam juga melanda logam mulia lainnya. Harga perak spot anjlok 27,9% dan ditutup di US$ 83,23 per ons, setelah sehari sebelumnya menyentuh rekor US$ 121,61 per ons. Meski turun tajam, harga perak telah melonjak sekitar 42% sepanjang bulan ini, menuju kinerja bulanan terbaiknya.

“Sebagian besar kenaikan harga perak didukung oleh fundamental yang solid. Namun, tidak dapat dimungkiri adanya ekses spekulasi di pasar, dan saat ini tekanan tersebut mulai terurai,” tutup Norman.


sumber : investor.id