Harga Emas Bersinar Terang, Dipicu Melemahnya Data Ketenagakerjaan AS
Harga emas dunia bersinar terang pada pekan ini, setelah mencatat kenaikan mingguan pertama dalam lima pekan. Reli logam mulia dipicu melemahnya data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang meredam ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, sekaligus menekan dolar AS.
Pada perdagangan Jumat (3/7/2026), harga emas spot ditutup melonjak 1,04% menjadi $ 4.166,51 per troy ounce, setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak 23 Juni 2026. Secara mingguan, harga emas telah menguat lebih dari 2% dan bertahan di atas rata-rata pergerakan 21 hari (21-day moving average), mengindikasikan momentum bullish mulai kembali menguat.
Penguatan emas dipicu laporan tenaga kerja AS yang dirilis Kamis (2/7/2026). Data menunjukkan penciptaan lapangan kerja nonfarm payrolls hanya mencapai 57.000 pada Juni, jauh di bawah konsensus ekonom dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan kenaikan sebanyak 114.000 pekerjaan.
Kepala Analis Pasar Bybit Han Tan mengatakan, perlambatan tajam perekrutan tenaga kerja di AS menjadi pemicu utama lonjakan harga emas.
“Reaksi pasar terhadap emas cukup wajar karena investor mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September setelah data tenaga kerja yang jauh lebih lemah dari perkiraan,” ujarnya.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September kini turun menjadi sekitar 54%, dibandingkan 66% sebelum data ketenagakerjaan dirilis.
Prospek suku bunga yang lebih rendah biasanya menjadi sentimen positif bagi emas karena menurunkan biaya peluang (opportunity cost) untuk memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti logam mulia.
Di saat yang sama, dolar AS mencatatkan pelemahan mingguan terbesar sejak April 2026. Melemahnya dolar membuat harga emas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih murah bagi investor global, sehingga turut meningkatkan permintaan.
Dukungan bagi harga emas juga datang dari bank sentral. Data World Gold Council (WGC) menunjukkan cadangan emas bank-bank sentral dunia kembali bertambah bersih sebanyak 41 ton sepanjang Mei 2026.
Menurut Han Tan, pembelian oleh bank sentral diperkirakan tetap menjadi salah satu penopang utama harga emas dalam jangka panjang, meski beberapa negara sempat menjual sebagian cadangannya untuk menjaga stabilitas nilai tukar mata uang domestik.
Dari pasar fisik, permintaan emas di India sedikit melemah akibat kenaikan harga, sedangkan minat beli di China mulai menunjukkan perbaikan.
Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga menguat. Harga perak spot melejit 2,2% dan ditutup di $ 62,28 per troy ounce.
sumber : investor.id
