Harga Emas Ambruk, Setelah Kembali Memanasnya Situasi di Timur Tengah

Harga emas dunia kembali ambruk hampir 2% pada Senin (4/5/2026), setelah memanasnya ketegangan di Timur Tengah justru memicu penguatan dolar AS dan aksi jual di pasar logam mulia.

Dikutip dari CNBC internasional, Di tengah meningkatnya risiko geopolitik dan kekhawatiran inflasi global, investor memilih mengamankan posisi di aset yang lebih likuid, membuat emas yang selama ini dianggap safe haven ikut terseret tekanan.

Harga emas ditutup jatuh 1,97% dan ditutup di level US$ 4.523,69 per ons.

Analis menilai tekanan terhadap emas kali ini tidak hanya dipicu faktor geopolitik, tetapi juga ekspektasi kebijakan suku bunga yang masih tinggi dalam jangka lebih panjang.

“Berita terbaru jelas tidak memberikan keyakinan bahwa situasi akan segera membaik. Ini kembali memunculkan kekhawatiran inflasi, disertai sinyal kebijakan suku bunga yang cenderung hawkish,” ujar Global Head of Commodity Strategy TD Securities Bart Melek.

Ketegangan meningkat setelah Iran dilaporkan menyerang sejumlah kapal di Selat Hormuz serta membakar salah satu pelabuhan minyak di Uni Emirat Arab. Aksi tersebut terjadi di tengah upaya AS mengerahkan Angkatan Laut untuk membuka jalur pelayaran, yang memicu eskalasi terbesar sejak gencatan senjata diumumkan empat minggu lalu.

Situasi ini langsung mendorong penguatan dolar AS serta kenaikan harga minyak Brent lebih dari 5%. Penguatan dolar menjadi tekanan tambahan bagi emas, karena logam mulia tersebut diperdagangkan dalam dolar AS sehingga menjadi lebih mahal bagi investor dengan mata uang lain.

Lonjakan harga energi turut memperbesar kekhawatiran inflasi global. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral, termasuk The Fed, akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Sejumlah lembaga keuangan, termasuk Barclays, bahkan mulai memproyeksikan bahwa The Fed tidak akan melakukan pelonggaran kebijakan sepanjang tahun ini. Pekan lalu, The Fed juga mempertahankan suku bunga dalam keputusan yang disebut paling terpecah sejak 1992, di tengah kekhawatiran dampak kenaikan harga energi terhadap ekonomi.

Fokus pasar kini tertuju pada sejumlah data ekonomi penting AS pekan ini, seperti data lowongan kerja, laporan ketenagakerjaan ADP, serta data payrolls April.

Secara teori, emas biasanya menjadi aset lindung nilai (safe haven) saat terjadi ketidakpastian geopolitik dan inflasi. Namun, dalam kondisi suku bunga tinggi, daya tarik emas cenderung menurun karena tidak memberikan imbal hasil (yield).

“Saya melihat area support kuat di sekitar US$ 4.200 per ons. Namun ketidakpastian serta kemungkinan kenaikan suku bunga dapat mendorong sebagian trader keluar dari posisi dalam jangka pendek,” tambah Melek.

Tekanan di pasar tidak hanya terjadi pada emas. Logam mulia lainnya juga ikut terkoreksi, yaitu perak jeblok 3,5% dan ditutup di US$ 72,68 per ons


sumber : investor.id