Emas Anjlok Tajam di Tengah Eskalasi AS-Iran dan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Harga Emas (XAUUSD) mengalami tekanan tajam pada perdagangan Selasa dengan penurunan lebih dari 2% hingga ditutup di US$4.328,07 per troy ounce. Pelemahan ini terjadi ketika eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran justru meningkatkan volatilitas pasar. Serangan militer dan ketidakpastian terkait Selat Hormuz mendorong harga minyak melonjak, sementara kenaikan imbal hasil Treasury AS dan penguatan ekspektasi suku bunga The Fed membuat emas kehilangan daya tariknya sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.

Kenaikan harga energi menjadi salah satu faktor penting yang memperburuk tekanan terhadap emas. Harga West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di area US$90 per barel dan mencatat kenaikan lebih dari 4%, sehingga meningkatkan kekhawatiran bahwa lonjakan harga energi dapat kembali memperkuat tekanan inflasi. Imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun pun naik hampir 4 basis poin ke 4,792%. Kondisi tersebut memberikan dukungan terhadap Dolar AS sekaligus meningkatkan opportunity cost dalam memegang emas.

Dari sisi kebijakan moneter, pasar semakin meningkatkan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada September setelah komentar hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole. Jika sebelumnya peluang kenaikan suku bunga berada di bawah 40%, pasar kini memperhitungkan probabilitas sekitar 71%. Sementara itu, data ekonomi AS menunjukkan hasil beragam, dengan PMI Manufaktur ISM Agustus turun menjadi 54,6 dari 55,6 pada Juli, sedangkan lowongan pekerjaan JOLTS meningkat menjadi 7,217 juta. Perhatian selanjutnya akan tertuju pada Beige Book The Fed, PMI Jasa ISM, data ketenagakerjaan, dan Nonfarm Payrolls yang berpotensi memberikan arah baru bagi ekspektasi suku bunga.

Secara teknikal, tekanan bearish terhadap XAUUSD semakin kuat setelah harga menembus sejumlah support penting. Penurunan melewati US$4.400 dan SMA 100-hari di sekitar US$4.365 menunjukkan bahwa momentum kenaikan sebelumnya mulai kehilangan kekuatan. Relative Strength Index (RSI) juga beralih ke wilayah bearish, mengindikasikan bahwa tekanan jual semakin dominan. Apabila harga mampu ditutup di bawah US$4.350, emas berpotensi melanjutkan penurunan menuju US$4.326 dan US$4.300, dengan target berikutnya berada di sekitar SMA 50-hari pada US$4.215.

Di sisi lain, peluang pemulihan tetap terbuka apabila pembeli mampu mengambil kembali area US$4.365 dan terutama US$4.400. Penembusan kembali di atas kedua level tersebut dapat mengurangi tekanan bearish dan membawa emas memasuki fase konsolidasi. Namun, untuk saat ini, kombinasi antara kenaikan imbal hasil Treasury, menguatnya Dolar AS, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, serta lonjakan harga energi membuat prospek jangka pendek emas masih cenderung tertekan. Investor perlu mencermati perkembangan konflik AS-Iran sekaligus data tenaga kerja AS karena keduanya berpotensi menjadi katalis utama pergerakan XAUUSD selanjutnya.


sumber : fxstreet