DXY Terpuruk! Data Tenaga Kerja AS yang Mengecewakan Picu Aksi Jual Dolar
Indeks Dolar AS (DXY) bergerak turun pada perdagangan Jumat, 3 Juli 2026, setelah pasar merespons rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang jauh lebih lemah dari ekspektasi. DXY diperdagangkan turun 0,16% ke level 100,46 saat berita ini ditulis Pukul 14.25 WIB. Laporan Non-Farm Payrolls (NFP) menunjukkan penambahan lapangan kerja yang hanya mencapai sekitar 57 ribu, jauh di bawah proyeksi pasar sebesar 114 ribu. Selain itu, revisi turun terhadap data tenaga kerja pada dua bulan sebelumnya semakin memperkuat indikasi bahwa pasar tenaga kerja AS mulai kehilangan momentum. Kondisi ini mendorong aksi jual dolar karena investor menilai peluang kenaikan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve menjadi semakin kecil.
Tekanan terhadap DXY juga berasal dari turunnya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS. Melemahnya data ketenagakerjaan membuat pelaku pasar meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya atau bahkan membuka peluang pelonggaran kebijakan lebih cepat apabila perlambatan ekonomi berlanjut. Akibatnya, daya tarik aset berbasis dolar menurun sehingga mata uang utama seperti euro, pound sterling, dan dolar Australia berhasil menguat terhadap greenback.
Di sisi lain, sentimen risiko global mengalami perbaikan setelah investor menilai perlambatan ekonomi AS berpotensi mengurangi tekanan kebijakan moneter yang ketat. Kondisi ini mendorong aliran dana keluar dari aset safe haven seperti dolar menuju aset berisiko, termasuk pasar saham dan mata uang komoditas. Penguatan bursa saham Asia pada sesi perdagangan hari ini menjadi salah satu indikator bahwa minat terhadap aset berisiko kembali meningkat seiring melemahnya dolar AS.
Pergerakan DXY juga dipengaruhi oleh penyesuaian posisi investor menjelang libur Hari Kemerdekaan Amerika Serikat (Independence Day), yang menyebabkan volume perdagangan relatif lebih tipis. Dalam kondisi likuiditas rendah, setiap kejutan data ekonomi cenderung memberikan dampak yang lebih besar terhadap pergerakan nilai tukar. Kombinasi data ekonomi yang mengecewakan dan aktivitas perdagangan yang menurun mempercepat pelemahan indeks dolar hingga mendekati level psikologis 100,7.
Menurut Carol Kong, Currency Strategist Senior di Commonwealth Bank of Australia (CBA), laporan ketenagakerjaan yang lebih lemah dari perkiraan telah mengubah persepsi pasar terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve. Ia menilai bahwa berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga menjadi faktor utama yang menekan dolar AS pada perdagangan hari ini. Meski demikian, Kong juga mengingatkan bahwa prospek dolar dalam jangka menengah masih akan sangat bergantung pada data inflasi dan komentar pejabat Federal Reserve dalam beberapa pekan mendatang.
sumber : reuters
