DXY Melemah di Tengah Redanya Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Indeks Dolar AS (DXY) pada Senin, 20 Juli 2026, bergerak melemah setelah pelaku pasar kembali mengurangi ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada pertemuan FOMC akhir Juli. DXY diperdagangkan turun 0,01% ke level 100,56 saat berita ini ditulis Pukul 13.15 WIB. Tekanan terhadap dolar masih dipicu oleh rangkaian data inflasi Amerika Serikat yang dirilis pekan lalu, di mana CPI dan PPI menunjukkan perlambatan yang lebih besar dari perkiraan. Kondisi tersebut membuat investor menilai The Fed memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga tanpa perlu bersikap lebih agresif.

Faktor kedua yang menekan DXY berasal dari pergeseran arus dana menuju mata uang utama lainnya, terutama euro dan pound sterling. Setelah data inflasi AS yang lebih lunak, imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury Yield) ikut turun sehingga daya tarik aset berbasis dolar berkurang. Investor mulai melakukan aksi profit taking terhadap dolar setelah reli yang sempat terjadi akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Selain itu, pernyataan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh juga menjadi perhatian pasar. Dalam kesaksiannya di hadapan Kongres, Warsh menegaskan bahwa dirinya tidak akan mendahului keputusan FOMC mengenai suku bunga bulan Juli. Sikap yang cenderung netral tersebut tidak memberikan sinyal hawkish yang diharapkan sebagian pelaku pasar sehingga memperkuat pandangan bahwa The Fed akan tetap berhati-hati sambil menunggu data ekonomi berikutnya.

Di sisi lain, sentimen geopolitik sebenarnya masih memberikan dukungan terhadap dolar sebagai aset safe haven. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali meningkat membuat harga minyak tetap tinggi dan menjaga permintaan aset defensif. Namun, pada awal pekan ini pengaruh sentimen tersebut kalah kuat dibanding perubahan ekspektasi kebijakan moneter. Dengan kata lain, pasar lebih fokus pada peluang penundaan kenaikan suku bunga dibanding risiko geopolitik jangka pendek.

Ke depan, arah DXY akan sangat bergantung pada data ekonomi AS berikutnya, terutama data tenaga kerja, PMI, dan komunikasi terbaru dari pejabat Federal Reserve menjelang rapat FOMC. Apabila data-data tersebut kembali menunjukkan pelemahan ekonomi dan inflasi tetap terkendali, tekanan terhadap DXY berpotensi berlanjut. Sebaliknya, jika data kembali menguat atau inflasi terdorong naik akibat lonjakan harga energi, dolar berpeluang mendapatkan kembali momentum penguatannya.

Menurut Kyle Rodda, Senior Market Analyst di Capital.com, pergerakan dolar saat ini lebih dipengaruhi oleh perubahan ekspektasi kebijakan moneter dibanding faktor teknikal semata. Ia menilai bahwa data inflasi yang lebih lemah telah mengurangi keyakinan pasar terhadap peluang kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat, sehingga DXY kehilangan sebagian daya tariknya. Namun, Rodda juga mengingatkan bahwa risiko geopolitik dan perkembangan inflasi energi masih dapat membatasi pelemahan dolar dalam jangka pendek.


sumber : reuters