Dolar Volatil di Tengah Ketegangan AS-Iran dan Spekulasi Intervensi Jepang

Dolar AS (USD) diperdagangkan sangat volatil pada hari Rabu di tengah berlanjutnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, meningkatnya spekulasi mengenai potensi intervensi valuta asing oleh otoritas Jepang, serta ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) dalam beberapa bulan mendatang. Indeks Dolar AS (DXY) bergerak fluktuatif di kisaran 99,50–99,60 setelah sempat mencapai level tertinggi dalam tiga minggu sebelum kembali menghadapi tekanan jual. Fokus pasar selanjutnya tertuju pada Klaim Tunjangan Pengangguran Awal, PMI Jasa ISM, Neraca Perdagangan, Biaya Tenaga Kerja per Unit, serta sejumlah pidato pejabat The Fed, termasuk Christopher Waller dan Beth Hammack.

Di pasar Eropa, EURUSD bergerak dengan bias bearish ringan dan melemah tipis, meskipun masih mampu bangkit dari level terendah dua minggu di sekitar 1,1570. Pergerakan pasangan ini selanjutnya akan dipengaruhi oleh rilis final PMI Jasa S&P Global Jerman dan Zona Euro, serta data Harga Produsen (PPI) kawasan tersebut. Sementara itu, GBPUSD gagal mempertahankan penguatan di atas level psikologis 1,3500 dan kembali turun hingga sekitar 1,3470. Pelaku pasar Inggris kini menantikan publikasi final PMI Jasa S&P Global sebagai katalis berikutnya bagi pergerakan Pound Sterling.

USDJPY mengalami penurunan tajam dan sempat menembus ke bawah Simple Moving Average (SMA) 200 hari di sekitar 158,40. Pelemahan tersebut terjadi seiring meningkatnya spekulasi bahwa Bank of Japan (BoJ) dan Kementerian Keuangan Jepang dapat kembali melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menopang Yen. Perhatian berikutnya akan tertuju pada rilis final PMI Jasa S&P Global Jepang serta data mingguan mengenai Investasi Obligasi Asing. Di sisi lain, AUDUSD dengan cepat membalikkan pelemahan pada hari sebelumnya dan kembali melanjutkan tren penguatan dengan menembus level 0,7170. Pasar Australia akan mencermati final PMI Jasa S&P Global, data Neraca Perdagangan, serta komentar dari sejumlah pejabat Reserve Bank of Australia (RBA).

Sementara itu, harga minyak mentah WTI melanjutkan momentum bullish tanpa menunjukkan tanda-tanda kehilangan tenaga. Harga WTI berhasil menembus level US$92,00 per barel dan mencapai level tertinggi dalam enam minggu. Penguatan tersebut terutama dipicu meningkatnya kekhawatiran terhadap perkembangan konflik antara AS dan Iran serta risiko gangguan terhadap jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz. Ketidakpastian geopolitik tersebut berpotensi menjaga harga energi tetap tinggi dan sekaligus meningkatkan perhatian pasar terhadap risiko inflasi global.

Di pasar logam mulia, harga emas (XAUUSD) mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah mengalami tekanan selama beberapa sesi perdagangan. Emas berhasil berbalik arah dan menguat tajam menuju US$4.400 per troy ons, sekaligus menghentikan penurunan beruntun sejak mencapai puncak Agustus 2026 di US$4.696,56. Kenaikan emas didukung oleh pelemahan moderat Dolar AS serta pergerakan imbal hasil obligasi Treasury AS yang relatif beragam. Selanjutnya, arah emas dan aset-aset utama akan sangat bergantung pada perkembangan konflik AS-Iran, pergerakan imbal hasil Treasury, ekspektasi kebijakan The Fed, serta rangkaian data ekonomi AS yang akan dirilis.


sumber : fxstreet