Dolar AS Stabil Jelang Rilis Data CPI AS
Indeks Dolar AS (DXY) bergerak relatif stabil di bawah level 100,00 menjelang rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat pada hari Rabu. Pasar memperkirakan inflasi tahunan Juli akan lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya, yang dapat mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan memberikan tekanan terhadap Dolar AS. Sentimen negatif di pasar saham AS juga turut membebani Greenback.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi perhatian utama pasar. Kepala Keamanan Iran Mohsen Rezai meminta AS memenuhi sejumlah tuntutan Iran sebagai bagian dari upaya mengakhiri konflik, termasuk pencairan dana dan aset Iran yang dibekukan serta kompensasi atas kerugian akibat konflik. Ketidakpastian tersebut membuat investor tetap berhati-hati dan mempertahankan permintaan terhadap aset safe haven.
Di pasar valuta asing, EURUSD bergerak stabil di sekitar 1,1540 menjelang rilis data inflasi Jerman. USDJPY juga relatif datar di dekat level 159,00 setelah dampak intervensi Jepang sebelumnya mulai mereda. Sementara itu, AUDUSD bergerak lesu di sekitar 0,7060 setelah Reserve Bank of Australia (RBA) mempertahankan suku bunga di 4,35%. USDCAD justru turun ke level terendah dalam dua bulan karena penguatan Dolar Kanada yang didukung kenaikan harga minyak.
Di pasar komoditas, emas bergerak sedikit lebih rendah setelah sebelumnya mendekati level tertinggi dua bulan di sekitar US$4.400 per troy ounce. Meskipun terkoreksi, emas tetap mendapatkan dukungan dari ketidakpastian geopolitik antara AS dan Iran. Sementara itu, harga WTI naik tipis ke sekitar US$83,30 per barel karena Selat Hormuz masih belum dibuka, sehingga risiko gangguan pasokan energi tetap menjadi perhatian pasar.
Fokus utama investor selanjutnya adalah data CPI AS yang akan menjadi indikator penting bagi arah kebijakan The Fed. Jika inflasi lebih rendah dari perkiraan, Dolar AS berpotensi kembali tertekan karena peluang pelonggaran kebijakan moneter meningkat. Sebaliknya, CPI yang lebih tinggi dapat memperkuat ekspektasi suku bunga tetap tinggi, menopang Dolar AS dan berpotensi memberikan tekanan terhadap emas. Perkembangan konflik AS-Iran dan kondisi Selat Hormuz juga akan tetap menjadi katalis penting bagi volatilitas pasar.
sumber : fxstreet
