Dolar AS Pulih, tetapi Tekanan Bearish Masih Membayangi

Indeks Dolar AS (DXY) diperdagangkan di 98,95 pada awal sesi Eropa hari Rabu dan mulai pulih dari pelemahan hari sebelumnya. Namun, penguatan tersebut masih terlihat rapuh karena pasar terus mencermati upaya pemerintah AS menekan kenaikan imbal hasil obligasi Treasury bertenor panjang. Departemen Keuangan AS sebelumnya mengumumkan rencana untuk meningkatkan operasi pembelian kembali obligasi menjadi sedikitnya US$4 miliar per operasi, dari batas sebelumnya US$2 miliar. Kebijakan ini ditujukan untuk membantu menjaga stabilitas pasar obligasi, tetapi sekaligus menimbulkan kekhawatiran terkait kondisi fiskal AS dan utang nasional yang telah melampaui US$40 triliun.

Dari sisi geopolitik, perluasan sanksi sekunder AS terhadap entitas dan negara yang masih melakukan hubungan bisnis dengan Iran berpotensi memberikan dukungan bagi Dolar AS sebagai aset safe haven. Ketegangan di Timur Tengah dapat meningkatkan permintaan terhadap USD apabila investor kembali mencari aset yang dianggap lebih aman. Namun, faktor tersebut harus berhadapan dengan ekspektasi kebijakan moneter The Fed yang semakin dovish. Pasar kini memperhitungkan probabilitas sekitar 38,4% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September, turun cukup tajam dibandingkan sekitar 67% pada awal bulan.

Perhatian utama pasar kini tertuju pada rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat untuk Juli yang dijadwalkan pada Rabu. Data tersebut penting karena PCE merupakan salah satu indikator inflasi yang menjadi perhatian utama The Fed. Selanjutnya, pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole pada Jumat akan menjadi katalis penting berikutnya. Pernyataan yang bernada hawkish mengenai inflasi dan suku bunga berpotensi memberikan dorongan bagi Dolar AS, sementara sinyal yang lebih dovish dapat kembali meningkatkan tekanan terhadap USD.

Menurut Scotiabank, pemulihan Dolar AS saat ini berpotensi rapuh apabila tidak disertai panduan kebijakan yang lebih jelas dari pemerintah dan The Fed. Investor membutuhkan kepastian mengenai rencana konsolidasi fiskal pemerintah AS serta arah kebijakan moneter ke depan. Dengan demikian, komunikasi dari para pejabat AS menjadi semakin penting karena pasar sedang mencari alasan baru untuk menentukan apakah pelemahan USD yang berlangsung dalam beberapa pekan terakhir akan berlanjut atau mulai mengalami pembalikan.

Secara teknikal, DXY masih menunjukkan bias bearish karena harga berada di bawah SMA 100-hari dan garis tengah Bollinger Band. RSI berada di 34,60, menunjukkan tekanan jual masih dominan meskipun indeks mulai mendekati kondisi jenuh jual. Support terdekat berada di sekitar 98,65, dan penembusan yang kuat di bawah level tersebut dapat membuka ruang menuju pelemahan lebih lanjut. Sebaliknya, resistance awal berada di 99,55, kemudian SMA 100-hari di sekitar 99,70 dan batas atas Bollinger Band di 100,40. Selama DXY belum mampu menembus dan bertahan di atas area 99,55–99,70, bias jangka pendek masih cenderung bearish.


sumber : fxstreet