Dolar AS Menguat Tipis Ditopang Kenaikan Imbal Hasil Obligasi dan Harga Minyak
Dolar AS (USD) diperdagangkan sedikit lebih tinggi terhadap mata uang utama lainnya pada awal perdagangan Eropa hari Selasa. Indeks Dolar AS (DXY) naik sekitar 0,08% ke level 99,46, didukung oleh kenaikan imbal hasil obligasi Pemerintah AS tenor panjang. Imbal hasil Treasury 10 tahun mencapai sekitar 4,78%, sedangkan imbal hasil Treasury 30 tahun meningkat 0,5% ke sekitar 5,27%. Kenaikan imbal hasil tersebut meningkatkan daya tarik aset berdenominasi USD dan membantu membatasi tekanan jual terhadap Greenback.
Penguatan imbal hasil obligasi AS terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi akibat lonjakan harga minyak. Harga minyak WTI naik hampir 0,6% ke sekitar US$86,00 per barel setelah konflik antara AS dan Iran kembali memanas. Saling serang antara kedua negara meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi yang berkepanjangan, khususnya di kawasan Selat Hormuz. Jika harga energi terus meningkat, tekanan inflasi dapat bertahan lebih lama dan mendorong investor memperkirakan kebijakan moneter AS yang lebih ketat.
Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah menembak jatuh drone MQ-9 milik AS di atas Selat Hormuz menggunakan rudal pertahanan udara. Insiden tersebut terjadi setelah Central Command (CENTCOM) AS sebelumnya menyerang peluncur roket Iran yang diduga sedang mempersiapkan pemasangan ranjau di Selat Hormuz. Eskalasi ini meningkatkan premi risiko di pasar energi sekaligus berpotensi memberikan dukungan bagi USD sebagai aset safe haven.
Dari sisi ekonomi, perhatian investor pada hari Selasa akan tertuju pada data PMI Manufaktur ISM AS dan JOLTS Job Openings untuk bulan Juli yang dijadwalkan dirilis pada pukul 21.00 WIB. Data tersebut dapat memberikan gambaran mengenai kondisi aktivitas manufaktur dan pasar tenaga kerja AS. Namun, fokus utama pasar pekan ini tetap berada pada laporan Nonfarm Payrolls (NFP) AS bulan Agustus yang akan dirilis pada Jumat. Data ketenagakerjaan tersebut berpotensi menjadi penentu penting bagi ekspektasi suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan arah USD dalam jangka pendek.
Secara teknikal, DXY berada di sekitar 99,48 dengan bias jangka pendek yang masih sedikit bearish karena harga bertahan di bawah EMA 20-hari di 99,53. RSI 46,62 juga berada di bawah level netral 50, menunjukkan momentum bullish masih lemah tanpa memasuki wilayah jenuh jual. EMA 20-hari menjadi resistance terdekat yang perlu ditembus untuk mengonfirmasi pemulihan yang lebih kuat. Selama DXY tetap berada di bawah level tersebut, tekanan turun masih berpotensi berlanjut, sementara area 99,50 dapat menjadi titik pivot penting bagi pergerakan indeks dalam jangka pendek.
sumber : fxstreet
