Dolar AS Menguat, Pasar Menanti Data Inflasi
Indeks Dolar AS (DXY) menguat pada awal perdagangan Senin dan bergerak di sekitar level 99,56, naik 0,08% saat berita ini ditulis Pukul 13.20 WIB, setelah sebelumnya mencatat penurunan tipis. Penguatan Greenback didorong oleh meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketegangan geopolitik AS-Iran yang masih tinggi, terutama terkait ketidakpastian di sekitar Selat Hormuz.
Di sisi lain, data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan menekan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Non-Farm Payrolls (NFP) secara tak terduga turun 23 ribu pada Juli, sementara data Juni direvisi turun tajam menjadi 20 ribu dari sebelumnya 57 ribu. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja AS mulai kehilangan momentum.
Pelemahan data tenaga kerja membuat pelaku pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga pada September. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin kini berada di sekitar 46%, turun dari 67% sepekan sebelumnya. Investor selanjutnya akan mencermati data inflasi AS untuk memperoleh petunjuk tambahan mengenai arah kebijakan moneter The Fed.
Pejabat The Fed, Thomas Barkin, juga menyampaikan pandangan yang relatif lebih hati-hati. Ia menggambarkan kondisi pasar tenaga kerja sebagai situasi “perekrutan rendah, pemecatan rendah”, yang menunjukkan perlambatan namun belum mengarah pada keruntuhan. Meskipun demikian, kondisi laba perusahaan yang masih kuat berpotensi membatasi ruang bagi The Fed untuk mengambil kebijakan yang terlalu dovish.
Secara keseluruhan, sentimen kebijakan The Fed memang mulai sedikit melunak, tetapi komunikasi bank sentral masih berada dalam wilayah yang relatif hawkish. Dengan meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan investor yang menantikan data inflasi, Dolar AS masih berpeluang mendapatkan dukungan dari permintaan safe haven meskipun ekspektasi kenaikan suku bunga mulai menurun.
sumber : fxstreet
