Dolar AS Menguat, Pasar Cermati Risiko Inflasi dan Kebijakan The Fed
Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kinerja Dolar AS terhadap enam mata uang utama, melanjutkan penguatan selama dua hari berturut-turut dan diperdagangkan di sekitar level 99,70 pada perdagangan hari Rabu. Penguatan Greenback didukung oleh kenaikan imbal hasil obligasi Pemerintah AS serta lonjakan harga minyak mentah yang kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi. Kondisi tersebut turut memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) berpotensi mempertahankan kebijakan moneter ketat atau bahkan menaikkan suku bunga apabila tekanan inflasi kembali meningkat.
Imbal hasil obligasi Pemerintah AS bertenor 10 tahun melonjak hingga 4,80%, mencapai level tertinggi sejak awal 2025, seiring dengan aksi jual yang terjadi di pasar obligasi global. Kenaikan yield membuat aset berbasis Dolar AS menjadi relatif lebih menarik karena menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi. Di sisi lain, peningkatan harga minyak mentah akibat eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran menambah risiko inflasi, terutama jika konflik tersebut mengganggu aliran energi dari kawasan Timur Tengah. Kondisi ini berpotensi memperkuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed yang lebih ketat dan memberikan dukungan tambahan bagi Dolar AS dalam jangka pendek.
Dari sisi data ekonomi, indikator terbaru Amerika Serikat memberikan gambaran yang beragam. Lowongan pekerjaan JOLTS pada Juli turun menjadi 7,27 juta, lebih rendah dari ekspektasi pasar, yang menunjukkan adanya sedikit pelemahan pada permintaan tenaga kerja. Sementara itu, ISM Manufacturing PMI pada Agustus turun dari 55,6 menjadi 54,6. Meskipun mengalami penurunan, angka tersebut masih berada di atas level 50 yang menandakan sektor manufaktur tetap berada dalam fase ekspansi. Dengan demikian, kondisi ekonomi AS masih menunjukkan ketahanan meskipun terdapat beberapa tanda perlambatan. Perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada laporan ketenagakerjaan ADP dan data Nonfarm Payrolls (NFP) yang akan dirilis pada Jumat sebagai acuan penting untuk memperkirakan arah kebijakan suku bunga The Fed.
Para ahli strategi Brown Brothers Harriman menilai kenaikan imbal hasil Treasury AS tidak semata-mata disebabkan oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal Amerika Serikat. Mereka menyoroti bahwa kinerja obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun masih relatif lebih baik dibandingkan pasar obligasi utama lainnya. Namun, kondisi tersebut tidak sepenuhnya menghilangkan risiko fiskal AS. Peningkatan biaya pembayaran bunga pemerintah pada akhirnya dapat meningkatkan premi risiko terhadap obligasi Pemerintah AS dan membuat Dolar AS lebih rentan terhadap tekanan apabila kekhawatiran mengenai kondisi fiskal semakin besar.
Secara keseluruhan, DXY masih memiliki bias bullish dalam jangka pendek, didukung oleh kenaikan imbal hasil Treasury, risiko inflasi akibat kenaikan harga minyak, serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Namun, penguatan Dolar AS tetap berpotensi menghadapi tekanan apabila data ketenagakerjaan AS menunjukkan pelemahan signifikan atau pasar kembali meningkatkan ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed. Oleh karena itu, data ADP dan terutama NFP pada Jumat akan menjadi katalis utama yang dapat menentukan keberlanjutan penguatan DXY sekaligus memberikan petunjuk lebih jelas mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed selanjutnya.
sumber : fxstreet
