Dolar AS dan Minyak Menguat di Tengah Ketegangan Selat Hormuz
Dolar AS (USD) menguat pada awal pekan, dengan Indeks Dolar AS (DXY) naik sekitar 0,2% ke atas level 99,80. Penguatan Greenback terjadi di tengah lonjakan harga minyak lebih dari 6% akibat ketidakpastian pembukaan kembali Selat Hormuz. Menariknya, emas dan perak juga bergerak naik bersamaan dengan dolar karena meningkatnya permintaan aset safe haven dan kekhawatiran terhadap risiko inflasi akibat kenaikan harga energi.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi faktor utama penggerak pasar. Presiden AS Donald Trump menolak tuntutan kompensasi dari Iran, sementara Tehran membantah adanya pembicaraan dan menetapkan persyaratannya sendiri terkait pembukaan Selat Hormuz. Ketidakpastian tersebut mempertahankan premi risiko pada harga minyak dan turut memberikan dukungan terhadap Dolar AS sebagai aset safe haven.
Harga WTI melonjak lebih dari 6% ke sekitar US$82,27 per barel, sementara emas naik sekitar 0,9% ke US$4.390 per troy ounce dan perak menguat sekitar 3,5% ke US$65,7. Di pasar valuta asing, USDJPY menjadi salah satu pasangan dengan pergerakan terbesar, naik lebih dari 0,9% ke sekitar 159,30 karena kenaikan harga energi dan imbal hasil obligasi AS memberikan tekanan terhadap Yen. EURUSD melemah, sementara GBPUSD relatif menguat dan AUDUSD turun menjelang keputusan Reserve Bank of Australia (RBA).
Pada hari Selasa, perhatian utama pasar akan tertuju pada keputusan RBA yang diperkirakan mempertahankan suku bunga di 4,35%. Investor akan mencermati pernyataan kebijakan dan konferensi pers Gubernur Michele Bullock untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan moneter berikutnya. Sementara itu, data ADP Employment Change dan Existing Home Sales AS akan memberikan gambaran tambahan mengenai kondisi pasar tenaga kerja dan sektor perumahan.
Namun, fokus terbesar pasar berada pada rilis CPI Amerika Serikat pada hari Rabu. Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan inflasi, sehingga data CPI yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat ekspektasi kebijakan Federal Reserve (The Fed) yang lebih ketat dan mendorong DXY naik lebih lanjut. Sebaliknya, data inflasi yang lebih rendah dapat mengurangi tekanan terhadap The Fed dan membuka ruang bagi pelemahan Dolar AS.
sumber : fxstreet
