Dolar AS Turun Tipis Sepekan Menguat 0,5% di Tengah Meningkatnya Kasus COVID-19


Dolar Amerika Serikat turun tipis pada Jumat (16/07) pagi di Asia. Namun, greenback akan mencatat kenaikan mingguan terbaiknya dalam kurun waktu sekitar satu bulan di tengah kegelisahan investor mengenai potensi kenaikan suku bunga AS yang lebih cepat dari perkiraan serta meningkatnya kasus infeksi COVID-19 dapat membatasi kerugian.

Indeks dolar AS sedikit melemah 0,05% ke 92,588 pukul 11.06 WIB menurut data Investing.com. Untuk sepekan indeks ini telah menguat 0,49%.

Pasangan USD/JPY naik 0,15% di 110,03. Bank of Japan (BOJ) menyimpulkan pertemuan dua hari sebelumnya pada hari ini, di mana membiarkan target kontrol kurva imbal hasil (YCC) tidak berubah pada -0,1% untuk suku bunga jangka pendek dan 0% untuk imbal hasil obligasi 10 tahun. BOJ juga memangkas perkiraan pertumbuhan tahun fiskal saat ini sambil mempertahankan proyeksi bahwa ekonomi menuju pemulihan moderat.

Pasangan AUD/USD menguat 0,16% di 0,7439, tetapi aturan lockdown di kota-kota terbesar Australia di Melbourne dan Sydney membayangi pergerakan dolar Australia.

Di seberang Laut Tasman, pasangan NZD/USD menguat 0,55% di 0,7020 pukul 11.09 WIB.

Adapun rupiah kembali melemah 0,21% di 14.510,0 per dolar AS sampai pukul 11.01 WIB.

Pasangan USD/CNY naik tipis 0,13% di 6,4655 dan GBP/USD juga naik tipis 0,06% ke 1,3836. Inggris akan menghentikan sebagian besar sisa pembatasan COVID-19 pada 19 Juli.

Indeks harga konsumen (CPI) Selandia Baru untuk kuartal kedua dirilis lebih tinggi dari yang diharapkan, tumbuh sebesar 3,3% tahun ke tahun dan 1,3% kuartal ke kuartal, tertinggi satu dekade. Dolar Selandia Baru adalah salah satu penggerak terbesar di antara mata uang utama pada perdagangan pagi setelah rilis data.

Investor sekarang memprediksi adanya peluang 86% bahwa Reserve Bank of New Zealand akan menaikkan suku bunga pada bulan Agustus, lebih awal daripada yang diharapkan, menjadi bank sentral pasar maju pertama yang keluar dari pengaturan kebijakan darurat jika hal itu dilakukan.

Namun, greenback yang kuat menjaga dolar Selandia Baru tetap dalam kisaran baru-baru ini.

"Jelas dolar AS memiliki kekuatan di belakangnya, dan saya pikir itu menahan semua mata uang utama ... ada sisi suku bunga, dan kadang-kadang itu adalah tawaran untuk safe haven ... menjadi cukup kuat selama beberapa bulan ke depan," ungkap ahli strategi Westpac Imre Speizer kepada Reuters.

Speizer menambahkan bahwa data AS baru-baru ini dimasukkan ke dalam tren imbal hasil obligasi yang lebih tinggi dan ekspektasi kenaikan suku bunga, investor sekarang menunggu data penjualan ritel inti Juni serta  indeks sentimen konsumen Michigan dan ekspektasi, pada hari ini.

Obligasi AS mencatat kenaikan minggu ketiga berturut-turut, di tengah kekhawatiran atas melonjaknya wabah COVID-19 yang melibatkan varian Delta dan spekulasi inflasi yang bersifat sementara menarik imbal hasil jangka panjang beranjak lebih rendah.

Baht Thailand, salah satu mata uang yang paling terpukul oleh wabah COVID-19 baru-baru ini, tampaknya akan mencatat kerugian mingguan kelima berturut-turut pasalnya negara itu mencatat rekor jumlah kasus harian.

Sementara itu, cryptocurrency jatuh ke bagian bawah kisaran baru-baru ini, di mana bitcoin turun 2,10% di $31.987,1 pukul 11.15 WIB.

Sumber : investing.com

Tinggalkan komentar:

Perdagangan dalam CFD dan produk dengan leverage umumnya melibatkan potensi keuntungan yang besar dan juga risiko kerugian yang besar, anda bisa mendapatkan banyak dalam waktu yang lebih singkat, tetapi anda juga mungkin kehilangan semua modal yang diinvestasikan. Anda harus mendapatkan saran finansial, legal, perpajakan dan saran profesional lainnya sebelum bergabung dalam transaksi CFD untuk meyakinkan bahwa ini merupakan hal yang cocok dengan tujuan, kebutuhan dan keadaan anda.

Pakuwon Center
Superblock Tunjungan City
Office Building Lt. 15 Unit 5-7
Jl. Embong Malang No. 1, 3, 5
Surabaya 60261
0800 - 156 - 5758
+62 31 9924 8699