AS-China Makin Gak Karuan, Harga Emas Rekor Tertinggi 8 Tahun


Hari pertama awal pekan ini, logam mulia emas langsung membuat kejutan. Seiring dengan berlanjutnya perseteruan antara Washington dengan Beijing, harga emas dunia melesat dan menyentuh level tertinggi dalam kurun waktu 8 tahun terakhir.

Senin (18/5/2020), harga emas dunia di pasar spot melesat 1,25% ke US$ 1.763,26 per troy ons. Kini emas di dunia ditransaksikan di level tertinggi sejak 10 Oktober 2012. Dengan begitu di sepanjang tahun ini saja harga emas sudah naik 16%. 

Berkembangnya konflik antara Amerika Serikat dan China memang jadi latar belakang yang positif dan mendorong harga emas untuk naik lebih tinggi. Trump yang gusar karena ekonomi AS luluh lantak akibat wabah corona (Covid-19) terus menyalahkan China atas kegagalannya dalam menghentikan wabah.

Hubungan keduanya sempat 'hampir' akur di awal tahun, kini kembali retak. Donald Trump sekarang tak lagi tertarik untuk membahas soal kesepakatan dagang antara kedua belah pihak walau sampai saat ini Washington dan Beijing masih terus berupaya untuk melakukan negosiasi. 

Hal ini dibenarkan langsung oleh penasihat Gedung Putih Larry Kudlow yang mengatakan bahwa keduanya terus melakukan negosiasi. Bahkan setelah Trump mewacanakan ingin memutus hubungan dengan China. 

Presiden AS ke-45 itu sebelumnya memang mengatakan berniat untuk cerai dengan China. Fokus Trump saat ini adalah bagaimana cara memberi 'hukuman' yang layak untuk mitra dagangnya tersebut.

Kabar paling baru, AS bahkan berusaha untuk memblokir pengiriman semikonduktor dari pembuat chip global ke Huawei, Jumat (15/5/2020). Sebagaimana dilaporkan CNBC Internasional, Departemen Perdagangan AS menyatakan telah mengubah aturan ekspor untuk mencegah akuisisi Huawei terhadap produk semikonduktor yang merupakan produk dari perangkat lunak (software) dan teknologi AS.

"Pengumuman ini mencegah upaya Huawei untuk melemahkan kontrol ekspor AS," kata Departemen Perdagangan AS.

Kabar pemblokiran Huawei ini, menurut Washington Post, muncul pertama kali ketika produsen semikonduktor Taiwan, TSMC, mengumumkan akan membangun pabrik senilai US$ 12 miliar atau Rp 180 triliun (asumsi kurs Rp 15.000/US$) di Arizona. Langkah ini akan menciptakan 1.600 lapangan pekerjaan baru.

Hanya saja, baik TSMC maupun Menteri Perdagangan Amerika Serikat Wilbur Ross, hanya menegaskan bahwa investasi ini sebagai bagian penting untuk memperkuat manufaktur teknologi tinggi di AS.

Langkah ini tak bisa diterima oleh China pastinya. Negeri Tirai Bambu itu pun tidak tinggal diam dan akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi Huawei dan perusahaan-perusahaan lain.

"China akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk secara tegas melindungi hak dan kepentingan sah perusahaan-perusahaan China," ujar Kementerian Perdagangan China, Minggu (17/5/2020), seperti dilansir AFP.

"China mendesak AS untuk segera menghentikan tindakan keliru. Ini adalah ancaman serius bagi rantai pasok global." 

Perseteruan keduanya yang terus berlanjut membuat risiko ketidakpastian global menjadi meningkat. Belum juga pandemi Covid-19 yang membuat ekonomi global jatuh tersungkur usai, kini drama konflik bilateral AS-China kembali disuguhkan.

Konflik tak berkesudahan ini dikhawatirkan akan mengarah pada konfrontasi militer. Seorang ahli dari Turki pada pertengahan April lalu bahkan mewanti-wanti bahwa perseteruan ini bisa berujung pada perang panas.

"Epidemi bisa dihentikan lebih awal jika Cina telah memberikan informasi untuk menghentikan virus pada sumbernya," kata Mesut Hakki Casin, seorang profesor hukum di Universitas Yeditepe Istanbul, mengutip Anadolu Agency media pemberitaan Turki.

Mengenai konflik perdagangan antara AS dan China, Casin mengatakan dia berpikir konflik ini akan tereskalasi ke ranah militer, bukan hanya sekedar perang dingin semata di mana ketegangan gagal meningkat menjadi konfrontasi militer langsung antara kekuatan super dunia.

Casin menggambarkan periode ini, dengan durasi yang tidak pasti, sebagai diplomasi epidemi. "Jadi Perang Dunia Ketiga dimulai antara kekuatan besar, dan duel abad ke-21 akan menjadi duel terakhir antara Washington dan Beijing," ia memperkirakan. "Saya percaya konflik di sini akan melalui Korea Selatan dan Utara," tambahnya.

Jika memang perang adalah jalan keduanya untuk menunjukkan siapa yang unggul, akan susah rasanya membayangkan pemulihan ekonomi terjadi. Malah yang ada dunia bisa lebur jika dua kekuatan ekonomi paling besar di planet bumi itu nekat angkat senjata. 

Emas sebagai aset minim risiko (safe haven) justru mendapat berkah dari ketidakpastian ini. Emas menjadi banyak dilirik oleh investor kala kondisi ekonomi sedang tidak kondusif. Aksi perburuan ini membuat harga emas naik, bahkan terbang seperti sekarang.

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/market/20200518092217-17-159142/as-china-makin-gak-karuan-harga-emas-rekor-tertinggi-8-tahun


Tinggalkan komentar:

Perdagangan dalam CFD dan produk dengan leverage umumnya melibatkan potensi keuntungan yang besar dan juga risiko kerugian yang besar, anda bisa mendapatkan banyak dalam waktu yang lebih singkat, tetapi anda juga mungkin kehilangan semua modal yang diinvestasikan. Anda harus mendapatkan saran finansial, legal, perpajakan dan saran profesional lainnya sebelum bergabung dalam transaksi CFD untuk meyakinkan bahwa ini merupakan hal yang cocok dengan tujuan, kebutuhan dan keadaan anda.

Pakuwon Center
Superblock Tunjungan City
Office Building Lt. 15 Unit 5-7
Jl. Embong Malang No. 1, 3, 5
Surabaya 60261
0800 - 156 - 5758
+62 31 9924 8699