Ada Apa dengan the Fed, Kok Harga Emas Jadi Turun?


Harga emas dunia pagi ini Kamis (30/7/2020) melemah, usai mencetak rekor tertinggi terbarunya semalam. Pada perdagangan kemarin, harga emas bergerak volatil seiring dengan berjalannya rapat komite pengambil kebijakan bank sentral AS (FOMC), The Federal Reserves (the Fed). 

Pada 09.00 WIB harga emas di pasar spot terkoreksi 0,46% ke US$ 1.961/troy ons. Kemarin harga emas ditutup di US$ 1.970,4/troy ons dan menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah yang pernah tercatat. 

Semalam the Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran target saat ini di 0% - 0,25%. Suku bunga acuan akan ditahan untuk waktu yang cukup lama hingga geliat ekonomi yang nyata benar-benar tampak.

Kebijakan moneter longgar yang ditempuh the Fed ini membuat risk appetite investor membaik. Alhasil harga aset-aset berisiko seperti saham naik. Tiga indeks utama Wall Street dini hari tadi berhasil finish di zona hijau.

Harga emas sempat melompat 1,1% pada perdagangan kemarin ke level tertinggi di US$ 1.980,31/troy ons. Lonjakan tersebut terjadi saat konferensi pers Ketua Fed Jerome Powell sebagai penutupan rapat FOMC the Fed yang dihelat dua hari itu. 

"Harga emas saat konferensi pers Powell - naik, turun tajam, pulih - ketika ketua (the Fed) itu hati-hati dan netral, hal itu membuat pluralitas sudut pandang berkembang di pasar saat ini," kata Tai Wong, kepala turunan logam mulia dan dasar berdagang di BMO.

"Setelah reli panjang, [emas] menunjukkan kemungkinan koreksi jangka pendek yang lebih tinggi."

"Penurunan ekonomi saat ini sangat parah dan dukungan fiskal dan moneter yang berkelanjutan akan diperlukan untuk pemulihan," kata Powell, setelah rilis pernyataan kebijakan terbaru bank sentral AS. 

Para pembuat kebijakan Fed mengatakan mereka tetap berkomitmen untuk menggunakan "berbagai alat" mereka untuk mendukung ekonomi dan mempertahankan suku bunga mendekati nol selama yang diperlukan bagi perekonomian untuk pulih.

Paket stimulus besar-besaran untuk membantu ekonomi di seluruh dunia untuk meredam kejatuhan ekonomi dari pandemi dan lingkungan suku bunga rendah telah membantu mendorong harga emas naik hampir 30% sepanjang tahun ini.

"Fundamental untuk emas tidak pernah lebih baik," kata Jeffrey Sica, pendiri Circle Squared Alternative Investments. "Namun, emas kemungkinan akan resisten di dekat level US$ 2.000" tambah Sica sebagaimana dikabarkan Reuters.

"Anda memiliki banyak orang yang memperdagangkan emas jangka pendek sekarang, jadi kami akan mendapatkan beberapa kemunduran hanya pada apa yang saya anggap sebagai aksi ambil untung sederhana karena ini merupakan tahun berjalan yang luar biasa," kata Sica.

Bisa dibilang setelah emas mencapai rekor barunya, maka harga akan terkoreksi dan mengindikasikan aksi ambil untung yang dilakukan oleh investor maupun para trader. Namun koreksi yang terjadi pada emas tersebut digunakan sebagai momentum untuk membeli bullion sehingga harganya bisa kembali terdongkrak naik. 

Selain tingkat suku bunga yang rendah serta injeksi likuiditas besar-besaran di pasar, fundamental emas sebagai aset safe haven juga didukung dengan ketegangan yang terjadi antara AS-China. 

Tensi geopolitik yang meninggi antara keduanya membuat prospek perekonomian menjadi semakin suram. Periode pemulihan ekonomi terancam tersendat jika kisruh antara dua raksasa ekonomi itu semakin tereskalasi. 

Fenomena tersebut justru semakin menguatkan fundamental emas. Semua sepakat, kondisi saat ini sangatlah menguntungkan emas. Hal ini juga disampaikan oleh bank investasi global asal Paman Sam yakni Goldman Sachs.

Bank investasi global tersebut pada hari Selasa menaikkan perkiraan harga emas 12 bulan menjadi US$ 2.300/ troy ons.

"Kami telah lama mempertahankan emas sebagai mata uang pilihan terakhir, terutama dalam lingkungan seperti saat ini di mana pemerintah mendebit mata uang fiat mereka dan mendorong suku bunga riil ke posisi terendah sepanjang masa," kata Goldman.

Kekhawatiran nyata seputar nasib dolar AS sebagai mata uang cadangan sudah mulai muncul, tambah Goldman Sachs.

"Kami melihat kekhawatiran inflasi terus meningkat dengan baik ke dalam periode pemulihan ekonomi, membuat arus masuk ke dalam ETF emas yang berkelanjutan di samping pelemahan struktural dolar, kami melihat emas digunakan sebagai lindung nilai dolar oleh para pengelola dana," kata Goldman.

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/market/20200730085230-17-176424/ada-apa-dengan-the-fed-kok-harga-emas-jadi-turun


Tinggalkan komentar:

Perdagangan dalam CFD dan produk dengan leverage umumnya melibatkan potensi keuntungan yang besar dan juga risiko kerugian yang besar, anda bisa mendapatkan banyak dalam waktu yang lebih singkat, tetapi anda juga mungkin kehilangan semua modal yang diinvestasikan. Anda harus mendapatkan saran finansial, legal, perpajakan dan saran profesional lainnya sebelum bergabung dalam transaksi CFD untuk meyakinkan bahwa ini merupakan hal yang cocok dengan tujuan, kebutuhan dan keadaan anda.

Pakuwon Center
Superblock Tunjungan City
Office Building Lt. 15 Unit 5-7
Jl. Embong Malang No. 1, 3, 5
Surabaya 60261
0800 - 156 - 5758
+62 31 9924 8699