Harga Minyak Tertekan, Gangguan Pasokan Mulai Mereda
Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melanjutkan pelemahan selama dua hari berturut-turut. WTI diperdagangkan turun 1,11% di sekitar US$100,83 per barel saat berita ini ditulis Pukul 13.45 WIB pada hari Kamis. Tekanan terhadap harga minyak muncul setelah laporan bahwa Arab Saudi berencana memulihkan sekitar setengah kapasitas pipa East-West dalam beberapa hari dan mengembalikannya ke operasi penuh dalam waktu sekitar enam minggu. Pipa tersebut merupakan jalur ekspor penting yang menyediakan alternatif terhadap Selat Hormuz dan mengalami kerusakan akibat serangan drone pada pekan sebelumnya.
Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan juga mulai mereda setelah Arab Saudi meningkatkan upaya mengangkut minyak mentah melalui Selat Hormuz dengan dukungan militer Amerika Serikat. Menteri Energi AS Chris Wright mengonfirmasi bahwa sekitar 18 juta barel minyak mentah dan produk minyak bumi telah berhasil melewati Selat Hormuz pada awal pekan ini. Perkembangan tersebut memberikan indikasi bahwa arus pasokan masih dapat berlangsung meskipun ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah tetap menjadi perhatian pasar.
Tekanan terhadap WTI semakin besar setelah Energy Information Administration (EIA) melaporkan penurunan persediaan minyak mentah AS yang lebih kecil dari perkiraan. Stok minyak mentah AS hanya turun sekitar 640 ribu barel, jauh di bawah ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan penurunan sekitar 1,62 juta barel. Selisih tersebut mengindikasikan bahwa permintaan minyak mungkin tidak sekuat perkiraan sebelumnya atau ketersediaan pasokan masih relatif memadai, sehingga mengurangi tekanan bullish dari sisi fundamental persediaan.
Meski demikian, risiko geopolitik belum sepenuhnya menghilang dan masih menjadi faktor penting bagi pergerakan harga minyak. TD Securities menilai kebijakan Amerika Serikat serta tingkat keterlibatan militernya di Timur Tengah akan menjadi faktor krusial bagi pasar minyak mentah. Menurut bank tersebut, keterlibatan militer AS yang lebih rendah atau kurang mendukung dapat membuat premi risiko geopolitik tetap tinggi. Selain itu, potensi upaya Iran untuk memperkuat pengaruhnya atas Selat Hormuz dapat mempertahankan kekhawatiran mengenai gangguan pasokan dalam jangka lebih panjang.
Secara keseluruhan, WTI menghadapi tekanan bearish akibat pemulihan bertahap infrastruktur ekspor Arab Saudi, kelancaran pengiriman melalui Hormuz, serta penurunan stok AS yang lebih kecil dari perkiraan. Namun, risiko geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor penyangga yang dapat membatasi penurunan lebih dalam. Selama proses pemulihan pipa East-West berjalan sesuai rencana dan arus minyak melalui Hormuz tetap lancar, tekanan terhadap WTI berpotensi berlanjut dalam jangka pendek. Sebaliknya, eskalasi konflik atau gangguan baru terhadap jalur pengiriman dapat kembali meningkatkan premi risiko dan mendorong harga minyak naik.
sumber : fxstreet
