WTI Tertekan Stok AS, Risiko Saudi Membayangi

West Texas Intermediate (WTI), patokan minyak mentah Amerika Serikat, diperdagangkan di sekitar US$104,5 per barel pada awal sesi perdagangan Eropa hari Rabu. Harga WTI mengalami tekanan setelah persediaan minyak mentah AS meningkat secara tak terduga. Namun, penurunan harga masih tertahan karena pelaku pasar terus mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, terutama setelah Arab Saudi menangguhkan pemuatan minyak di pelabuhan Yanbu akibat gangguan pada jalur distribusi minyaknya.

Menurut American Petroleum Institute (API), persediaan minyak mentah AS untuk pekan yang berakhir 11 September meningkat sebesar 7,14 juta barel, berbalik dari penurunan 300.000 barel pada pekan sebelumnya. Angka tersebut jauh berbeda dari ekspektasi pasar yang memperkirakan penurunan sebesar 1,8 juta barel. Lonjakan stok yang tidak terduga ini menjadi faktor bearish bagi WTI karena mengindikasikan meningkatnya ketersediaan minyak di pasar AS dan berpotensi memicu aksi jual dalam jangka pendek.

Di sisi lain, risiko gangguan pasokan dari Arab Saudi memberikan dukungan terhadap harga minyak. Reuters melaporkan bahwa pemuatan minyak di pelabuhan Yanbu dihentikan setelah Arab Saudi menutup pipa East-West menyusul serangan Houthi yang berafiliasi dengan Iran di Yaman pada Jumat. Pipa tersebut digunakan Arab Saudi untuk mengalihkan sekitar 4 juta barel per hari, atau sekitar 4% dari pasokan minyak global, menuju pelabuhan di Laut Merah. Menteri Energi AS Chris Wright memperkirakan gangguan tersebut hanya berlangsung selama beberapa hari, sementara Andy Lipow dari Lipow Oil Associates menilai berdasarkan gambar kerusakan yang tersedia, proses perbaikan berpotensi membutuhkan waktu berbulan-bulan.

Ketidakpastian tersebut semakin diperhatikan karena kondisi pasokan minyak global dinilai semakin rentan. Para analis Rabobank memperingatkan bahwa gangguan pasokan terbaru terjadi ketika persediaan minyak mentah global terus menurun dan Strategic Petroleum Reserve (SPR) mulai berada pada level yang mengkhawatirkan. Kombinasi antara penurunan persediaan global dan terbatasnya cadangan strategis dapat menciptakan kondisi pasar yang lebih ketat, sehingga risiko gangguan pasokan berkepanjangan berpotensi memberikan tekanan naik terhadap harga WTI.

Secara keseluruhan, WTI saat ini menghadapi tarik-menarik antara tekanan bearish dari lonjakan persediaan minyak mentah AS dan sentimen bullish akibat risiko gangguan pasokan dari Arab Saudi serta kondisi pasar global yang semakin ketat. Level US$100,00 menjadi area psikologis penting bagi pergerakan harga. Jika kekhawatiran terhadap pasokan semakin meningkat, WTI berpotensi kembali mendapatkan momentum kenaikan. Sebaliknya, apabila perhatian pasar beralih kembali pada peningkatan stok AS dan gangguan Saudi dinilai hanya bersifat sementara, tekanan profit taking dapat berlanjut dalam jangka pendek.


sumber : fxstreet