Dolar AS Menguat Saat Imbal Hasil Treasury Tembus Level Tertinggi 19 Tahun
Indeks Dolar AS (DXY) menguat ke level 99,37 pada hari Selasa, didukung oleh kenaikan imbal hasil obligasi Treasury AS. Imbal hasil Treasury tenor 10 tahun menembus 5,04%, level tertinggi sejak 2007, seiring lonjakan harga minyak hampir 4% yang kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi. Kondisi tersebut terjadi menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed), sehingga perhatian pasar tertuju pada arah kebijakan moneter AS.
Pasar saat ini memperkirakan sekitar 92% peluang The Fed menaikkan suku bunga pada hari Rabu, yang akan menjadi kenaikan pertama sejak 2023. Karena langkah tersebut telah banyak diperhitungkan oleh pasar, reaksi aset keuangan kemungkinan lebih dipengaruhi oleh proyeksi ekonomi terbaru, dot plot, serta panduan Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai kemungkinan pengetatan kebijakan lanjutan. Sebelum keputusan tersebut, data Penjualan Ritel AS menjadi salah satu indikator penting yang dapat memengaruhi ekspektasi pasar.
Di pasar mata uang utama, EURUSD bergerak turun dan bertahan di sekitar 1,1540-an karena penguatan Dolar AS memberikan tekanan menjelang keputusan The Fed. GBPUSD juga melemah di sekitar 1,3480, dengan perhatian pasar tertuju pada laporan inflasi Inggris yang akan dirilis pada hari Rabu serta keputusan kebijakan The Fed. Sementara itu, USDJPY bertahan di dekat 155,00, didukung kenaikan imbal hasil Treasury AS, meskipun penguatannya masih dibatasi oleh ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ) pada hari Jumat.
AUDUSD turut mengalami tekanan dan bergerak di sekitar 0,7130-an karena penguatan Dolar AS mengurangi daya tarik mata uang yang sensitif terhadap sentimen risiko dan pertumbuhan global. Pergerakan pasangan mata uang tersebut juga tetap dipengaruhi oleh perubahan ekspektasi suku bunga AS serta kondisi pasar komoditas.
Di sisi komoditas, emas bergerak naik tipis dan diperdagangkan sedikit di bawah US$4.300 per troy ons. Kekhawatiran terhadap inflasi serta meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah masih memberikan dukungan terhadap permintaan emas sebagai aset lindung nilai. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) melanjutkan penguatannya dan diperdagangkan di atas US$105 per barel di tengah kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.
sumber : fxstreet
