Harga Minyak Tembus US$100 di Tengah Eskalasi Konflik dan Kekhawatiran Gangguan Pasokan
Harga West Texas Intermediate (WTI), acuan minyak mentah Amerika Serikat, melonjak lebih dari 7% dan berhasil menembus level psikologis US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei 2026. WTI pada hari Kamis ditutup di US$103,94 setelah sempat menyentuh level terendah US$95,36. Lonjakan tersebut mencerminkan meningkatnya premi risiko di pasar minyak seiring intensifikasi konflik di Timur Tengah dan kekhawatiran bahwa gangguan terhadap jalur distribusi energi dapat memicu kekurangan pasokan global.
Ketegangan geopolitik menjadi faktor utama yang menopang harga minyak. Kelompok Houthi Yaman yang memiliki hubungan dengan Iran menyatakan bahwa mereka berada di ambang menguasai Selat Bab al-Mandab, sehingga meningkatkan risiko terhadap lalu lintas kapal di kawasan Laut Merah. Di sisi lain, aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz masih mengalami pembatasan. Laporan mengenai peningkatan kembali produksi rudal balistik Iran serta serangan terhadap sejumlah kapal di sekitar Selat Hormuz semakin memperkuat kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Risiko geopolitik juga meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat berpotensi melakukan serangan terhadap Gunung Pickaxe di dekat fasilitas pengayaan uranium Natanz, Iran, yang sebelumnya telah mengalami kerusakan berat. Trump juga memperkirakan bahwa konflik dapat berlanjut hingga setelah pemilu paruh waktu AS pada November. Pernyataan tersebut meningkatkan ketidakpastian mengenai durasi konflik dan memperbesar risiko bahwa gangguan terhadap infrastruktur maupun jalur perdagangan energi dapat berlangsung lebih lama. Kondisi ini membuat pasar memberikan premi risiko yang lebih tinggi pada harga minyak mentah.
Selain faktor geopolitik, permintaan dari Tiongkok turut memberikan dukungan terhadap reli WTI. Tiongkok kembali meningkatkan aktivitas pembelian minyak mentah dalam beberapa pekan terakhir di tengah penurunan stok domestik. Jika tren pembelian tersebut terus berlanjut, permintaan yang lebih kuat berpotensi memperbesar dampak dari gangguan pasokan dan menjaga harga minyak tetap berada pada level tinggi. Dari Amerika Serikat, data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah turun sebesar 391 ribu barel menjadi 424,1 juta barel pada pekan terakhir. Aktivitas penyulingan yang masih kuat turut menunjukkan bahwa permintaan energi tetap relatif solid.
Secara keseluruhan, prospek WTI masih cenderung bullish selama ketegangan di Timur Tengah, risiko gangguan Selat Hormuz dan Bab al-Mandab, serta permintaan global tetap kuat. Penembusan US$100 menjadi sinyal penting secara psikologis dan berpotensi membuka ruang kenaikan lebih lanjut apabila pasokan terus terganggu. Namun, kenaikan yang sangat cepat juga meningkatkan risiko koreksi apabila muncul perkembangan positif terkait konflik atau pasokan kembali normal. Untuk jangka pendek, pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan militer di Timur Tengah, arus pelayaran melalui jalur strategis, pembelian minyak Tiongkok, serta data persediaan AS sebagai katalis utama pergerakan harga WTI.
sumber : fxstreet
