Dolar Tertekan, Emas Kembali Menguat Jelang Data Inflasi AS
Dolar AS (USD) bergerak dalam tekanan bearish pada perdagangan Rabu setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana pembelian kembali obligasi Treasury senilai hingga US$6 miliar dengan tenor 10 hingga 20 tahun. Indeks Dolar AS (DXY) tetap berada di bawah level 99,00 meskipun imbal hasil Treasury AS mengalami rebound di berbagai tenor. Pergerakan Greenback juga masih dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, tetapi perhatian investor mulai kembali beralih kepada data inflasi Amerika Serikat yang akan menjadi katalis penting bagi arah kebijakan Federal Reserve (The Fed). Pasar kini menantikan data Harga Produsen (PPI), Klaim Tunjangan Pengangguran Awal, Existing Home Sales, Persediaan Grosir, serta laporan mingguan persediaan minyak mentah dari EIA.
Di kawasan Eropa, EURUSD mempertahankan momentum bullish dan berhasil naik ke level tertinggi beberapa hari di atas 1,1650. Penguatan Euro berlangsung menjelang keputusan kebijakan moneter European Central Bank (ECB), yang secara luas diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Selain keputusan ECB, pasar juga akan mencermati rilis final Tingkat Inflasi Jerman sebagai indikator tambahan terhadap tekanan harga di kawasan tersebut. Sementara itu, GBPUSD kembali melanjutkan penguatan setelah sebelumnya bergerak tidak meyakinkan, dengan harga mencapai sekitar 1,3570. Dari Inggris, perhatian pasar relatif terbatas dan hanya tertuju pada publikasi RICS House Price Balance.
Di Asia, USDJPY melanjutkan tren penurunan dan kembali menguji area 153,00 yang merupakan level terendah dalam sekitar tujuh bulan. Pelemahan Yen terhadap Dolar semakin mencerminkan perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Jepang dan Amerika Serikat. Investor akan mencermati data Investasi Obligasi Asing Jepang serta pidato pejabat Bank of Japan (BoJ) Masu untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan selanjutnya. Sementara itu, AUDUSD mencatat level tertinggi baru di sekitar 0,7240, yang merupakan level tertinggi sejak awal Mei 2026. Dolar Australia memperoleh dukungan dari sentimen pasar yang lebih positif, dengan perhatian berikutnya tertuju pada data Consumer Inflation Expectations dari Melbourne Institute.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terus menunjukkan momentum bullish dan sempat mendekati US$97,00 per barel, level tertinggi dalam sekitar empat bulan. Penguatan minyak masih didorong oleh ketegangan yang berkelanjutan dalam konflik AS-Iran serta risiko terhadap jalur strategis Selat Hormuz. Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan kembali tekanan inflasi global dan menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi ekspektasi kebijakan bank sentral. Kondisi geopolitik tersebut juga membuat investor tetap berhati-hati terhadap aset berisiko meskipun perhatian pasar saat ini semakin terfokus pada data ekonomi.
Sementara itu, harga Emas (XAUUSD) berhasil menghentikan penurunan selama tiga hari berturut-turut dan kembali menembus level US$4.400 per troy ounce. Penguatan tersebut didukung oleh tekanan moderat terhadap Dolar AS, ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung, serta sikap hati-hati investor menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat. Selanjutnya, data PPI dan terutama Consumer Price Index (CPI) AS akan menjadi penentu penting bagi arah Emas karena dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed. Jika inflasi lebih rendah dari perkiraan, peluang pelonggaran kebijakan dapat meningkat dan berpotensi memberikan dukungan tambahan bagi XAUUSD. Sebaliknya, data inflasi yang lebih tinggi dapat memperkuat Dolar AS dan imbal hasil Treasury, sehingga berpotensi kembali menekan harga Emas.
sumber : fxstreet
