Indeks Dolar AS Melemah Tiga Hari, Namun Risiko Inflasi Batasi Penurunan

Indeks Dolar AS (DXY) melanjutkan pelemahan untuk hari ketiga berturut-turut dan bergerak di 98,67 turun 0,16% saat berita ini ditulis Pukul 13.50 WIB pada perdagangan hari Rabu. Tekanan terhadap Greenback masih terlihat karena pasar terus merespons perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Namun, potensi penurunan DXY lebih lanjut dapat terbatas seiring meningkatnya harga minyak yang berpotensi memperkuat tekanan inflasi dan mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

Kenaikan harga minyak dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Amerika Serikat menyerang beberapa kapal tanker Iran di sekitar Pulau Kharg, salah satu pusat utama ekspor minyak Iran. Eskalasi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi global dan berpotensi menyebabkan harga minyak bertahan pada level tinggi. Jika harga energi terus meningkat, tekanan inflasi dapat kembali menguat sehingga memberikan alasan bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat atau bahkan menaikkan suku bunga. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memberikan dukungan terhadap Dolar AS.

Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed juga mulai meningkat. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan mendatang berada di sekitar 60%. Selanjutnya, perhatian pasar akan tertuju pada data Producer Price Index (PPI) dan Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat yang dirilis pekan ini. Kedua indikator tersebut sangat penting karena dapat memberikan gambaran mengenai perkembangan tekanan inflasi sekaligus menjadi pertimbangan utama bagi The Fed menjelang pertemuan September. Data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi memperkuat USD, sedangkan data yang lebih rendah dapat kembali menekan DXY.

Meski demikian, National Bank of Canada mengingatkan bahwa pelaku pasar sebaiknya tidak terlalu cepat menarik kesimpulan dari perubahan data dan pergerakan pasar terbaru. Pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam pidato Jackson Hole bahwa berita masa lalu sering kali disalahartikan sebagai gambaran kondisi saat ini menjadi relevan, terutama di pasar obligasi. Perubahan narasi mengenai inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan kebijakan moneter dapat dengan cepat mengubah pergerakan imbal hasil obligasi dan ekspektasi suku bunga. Oleh karena itu, arah DXY masih sangat bergantung pada kombinasi data ekonomi terbaru dan komunikasi The Fed.

Secara keseluruhan, bias DXY masih cenderung bearish dalam jangka pendek, tetapi tekanan turun berpotensi terbatas oleh meningkatnya risiko inflasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Level 98,80 menjadi area penting untuk diperhatikan; kemampuan indeks bertahan di atas level tersebut dapat membuka peluang rebound apabila data PPI atau CPI menunjukkan tekanan inflasi yang lebih tinggi. Sebaliknya, apabila data inflasi mengecewakan dan DXY menembus 98,80 secara meyakinkan, tekanan jual berpotensi berlanjut menuju level support berikutnya. Dengan demikian, data PPI dan CPI AS menjadi katalis utama yang akan menentukan apakah DXY mampu melakukan pemulihan atau melanjutkan tren pelemahan.


sumber : fxstreet