Emas Tertekan Jelang Data Inflasi AS, Pasar Cermati Kebijakan The Fed

Harga Emas (XAUUSD) kembali mengalami tekanan pada perdagangan Senin dan terkoreksi lebih dari 0,40% dan ditutup di US$4.407,01 setelah sebelumnya mencapai level tertinggi harian di US$4.435,07. Pelemahan tersebut masih merupakan dampak lanjutan dari laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat pada Jumat lalu yang lebih kuat dari perkiraan. Nonfarm Payrolls (NFP) Agustus tercatat bertambah 162 ribu, jauh di atas konsensus 55 ribu, sementara data Juli direvisi naik dari -23 ribu menjadi 21 ribu. Tingkat Pengangguran tetap berada di 4,1%, sehingga kondisi pasar tenaga kerja yang relatif solid kembali membuka ruang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan atau bahkan memperketat kebijakannya apabila tekanan inflasi kembali meningkat.

Reaksi pasar terlihat melalui pergerakan imbal hasil Treasury AS dan ekspektasi suku bunga The Fed. Setelah rilis NFP, imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat dan sempat memberikan dukungan terhadap Dolar AS. Namun, Indeks Dolar AS (DXY) pada perdagangan Senin justru terkoreksi sekitar 0,25% ke 98,89. Sementara itu, pasar uang masih memperhitungkan peluang sekitar 60% untuk kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan 15–16 September, berdasarkan Prime Terminal. Perubahan ekspektasi tersebut menjadi salah satu faktor yang membatasi potensi penguatan Emas, mengingat kenaikan suku bunga dan imbal hasil obligasi meningkatkan biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.

Fokus utama pasar pekan ini akan tertuju pada data inflasi Amerika Serikat, terutama Producer Price Index (PPI) pada Kamis dan Consumer Price Index (CPI) pada Jumat. Kedua data tersebut akan menjadi indikator penting bagi arah kebijakan The Fed setelah data tenaga kerja menunjukkan ketahanan yang lebih baik dari perkiraan. Selain faktor moneter, perkembangan geopolitik juga berpotensi meningkatkan volatilitas Emas. Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah adanya laporan serangan AS terhadap tanker Iran dan aksi balasan Iran di sekitar Selat Hormuz. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump kembali memberikan tekanan kepada The Fed agar menurunkan suku bunga, sehingga perbedaan pandangan mengenai arah kebijakan moneter AS turut menjadi perhatian pasar.

Selain PPI dan CPI, agenda ekonomi AS pekan ini mencakup Klaim Tunjangan Pengangguran, Laporan Anggaran Bulanan AS, serta Sentimen Konsumen Universitas Michigan untuk September. Kombinasi data tersebut akan membantu pasar menilai apakah kondisi ekonomi masih cukup kuat untuk mendukung kebijakan moneter yang ketat atau justru mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Apabila data inflasi kembali menunjukkan tekanan yang tinggi, ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga dapat menguat dan berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap XAU/USD. Sebaliknya, data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan dapat mengurangi peluang pengetatan kebijakan dan memberikan katalis positif bagi Emas.

Secara teknikal, XAUUSD masih bergerak dalam tekanan bearish jangka pendek dengan volatilitas yang relatif terbatas akibat rendahnya volume perdagangan. Area US$4.400 menjadi support terdekat, sementara SMA 100-hari di sekitar US$4.350 menjadi support penting berikutnya. Penembusan tegas di bawah SMA 100-hari dapat membuka ruang pelemahan menuju US$4.300 dan swing low 2 September 2026 di sekitar US$4.282. Sebaliknya, apabila harga mampu kembali menembus US$4.500, perhatian berikutnya akan tertuju pada SMA 200-hari di sekitar US$4.535, kemudian US$4.600 dan level tertinggi 25 Agustus 2026 di US$4.697. RSI yang berada dalam kondisi netral hingga cenderung menurun menunjukkan bahwa momentum bearish masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek.


sumber : fxstreet