Indeks Dolar Tertekan, Pasar Menanti Data ISM Jasa dan NFP AS
Indeks Dolar AS (DXY) diperdagangkan di sekitar level 99,32 pada awal sesi Eropa hari Kamis dan menghadapi tekanan jual setelah imbal hasil obligasi Pemerintah AS mengalami penurunan dari level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Pelemahan Dolar AS terutama dipicu oleh data ketenagakerjaan sektor swasta yang lebih lemah dari perkiraan. Menurut Automatic Data Processing (ADP), perusahaan swasta di AS hanya menambah 38.000 lapangan pekerjaan pada Agustus, turun dari 46.000 pada Juli dan jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 47.000. Angka tersebut menjadi pertumbuhan lapangan pekerjaan terendah sejak Januari dan meningkatkan kekhawatiran terhadap kondisi pasar tenaga kerja AS.
Meski demikian, tekanan terhadap Dolar AS berpotensi terbatas karena sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) masih memberikan pernyataan yang cenderung hawkish. Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan kembali komitmen bank sentral terhadap target inflasi 2% dan mengindikasikan bahwa tekanan harga belum cukup mereda untuk memberikan keyakinan penuh terhadap pelonggaran kebijakan. Sementara itu, Presiden The Fed New York John Williams menilai kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang lebih mencerminkan kekuatan ekonomi AS daripada meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun pasar tenaga kerja mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan, The Fed masih memiliki alasan untuk berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Pasar saat ini memperkirakan probabilitas sekitar 62% untuk kenaikan suku bunga AS pada September. Selanjutnya, perhatian investor akan tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS yang akan dirilis Jumat, khususnya Nonfarm Payrolls (NFP) dan Tingkat Pengangguran. NFP diperkirakan menunjukkan penambahan 58.000 lapangan pekerjaan pada Agustus, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan tetap berada di 4,1%. Menurut TD Securities, data NFP yang lebih kuat dari perkiraan dapat memberikan dorongan awal bagi Dolar AS, tetapi dampaknya terhadap ekspektasi kebijakan The Fed kemungkinan tetap terbatas. Dengan demikian, meskipun kejutan positif pada NFP dapat bersifat bullish bagi USD, data tersebut dinilai belum tentu cukup kuat untuk mendorong The Fed menaikkan suku bunga pada September.
Pernyataan John Williams juga mencerminkan sikap hawkish yang relatif hati-hati. Ia menilai kenaikan imbal hasil obligasi lebih mencerminkan kondisi ekonomi yang kuat dan prospek pertumbuhan yang solid, sementara ekspektasi inflasi tetap terkendali meskipun tarif dan konflik di Timur Tengah berpotensi meningkatkan tekanan harga. Indeks Sentimen Fed FXS turun 1,42 poin menjadi 127,44, tetapi masih berada jauh di atas level netral 100. Hal tersebut menunjukkan bahwa persepsi pasar terhadap sikap The Fed masih cenderung hawkish, meskipun terdapat sedikit penurunan dalam intensitasnya. Oleh karena itu, arah DXY selanjutnya akan sangat bergantung pada kombinasi data ekonomi AS, perkembangan inflasi, serta ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga.
Dari sisi teknikal, DXY masih berada di bawah SMA 100-hari dan garis tengah Bollinger Bands 20-hari, sehingga bias jangka pendek masih cenderung bearish hingga netral. RSI 14 berada di sekitar 45, menunjukkan momentum yang relatif lemah dan belum memperlihatkan tren yang kuat. Resistance terdekat berada di 99,42 yang merupakan garis tengah Bollinger Bands, kemudian 99,75 pada SMA 100-hari dan 100,15 pada upper Bollinger Band. Selama harga belum mampu menembus dan bertahan di atas 99,75, ruang kenaikan DXY masih terbatas. Sementara itu, support utama berada di sekitar 98,65 pada lower Bollinger Band. Jika level tersebut ditembus, tekanan jual berpotensi meningkat dan membuka ruang bagi koreksi yang lebih dalam. Secara keseluruhan, bias DXY masih cenderung bearish dalam jangka pendek, dengan data NFP Jumat sebagai katalis utama yang berpotensi menentukan arah pergerakan berikutnya.
sumber : fxstreet
