Emas Berada di Bawah Tekanan, Fokus Pasar Tertuju pada Data NFP AS

Harga emas (XAUUSD) kembali berada di bawah tekanan jual pada awal perdagangan Rabu dan diperdagangkan di sekitar US$4.320 setelah sebelumnya sempat mencapai level terendah dalam empat minggu. Pelemahan tersebut terjadi di tengah penguatan terbatas Dolar AS (USD), sementara ekspektasi terhadap kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) yang lebih ketat masih menjadi faktor utama yang membatasi daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil. Di sisi lain, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah mendorong harga minyak mentah ke level tertinggi sejak 24 Juli 2026, sehingga memunculkan kembali kekhawatiran terhadap inflasi dan memperkuat spekulasi mengenai potensi kenaikan suku bunga The Fed pada September.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah pasukan AS menyerang sejumlah peluncur roket Iran di dekat Pulau Larak, di kawasan Selat Hormuz. Serangan tersebut memicu respons militer Iran terhadap sejumlah kepentingan AS di kawasan Timur Tengah. Eskalasi ini menjaga premi risiko geopolitik tetap tinggi dan berpotensi mendukung Dolar AS sebagai aset safe haven. Pada saat yang sama, gangguan terhadap jalur distribusi energi melalui Selat Hormuz dapat mendorong harga minyak lebih tinggi, meningkatkan tekanan inflasi global, serta memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral akan mempertahankan kebijakan moneter ketat dalam waktu yang lebih lama.

Tekanan terhadap emas juga diperkuat oleh kenaikan imbal hasil obligasi Pemerintah AS. Kekhawatiran mengenai kondisi fiskal AS dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan pemerintah telah mendorong aksi jual di pasar obligasi, dengan imbal hasil Treasury tenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak Januari 2025. Kenaikan yield tersebut meningkatkan biaya peluang memegang emas dan dapat mengalihkan sebagian aliran dana menuju aset berbasis imbal hasil. Oleh karena itu, meskipun emas masih memiliki daya tarik sebagai aset lindung nilai dan safe haven, kondisi fundamental saat ini cenderung memberikan tekanan terhadap harga dalam jangka pendek.

Dari sisi teknikal, penembusan harga di bawah level Fibonacci retracement 50% dari pemulihan terbaru menjadi indikasi meningkatnya tekanan bearish. Indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) berada jauh di wilayah negatif dan berada di bawah garis nol, menunjukkan momentum penurunan masih cukup kuat. Sementara itu, Relative Strength Index (RSI) berada di sekitar 44, yang menunjukkan momentum bullish telah melemah tetapi belum memasuki wilayah jenuh jual. Support penting berada di sekitar US$4.276 yang bertepatan dengan Exponential Moving Average (EMA) 200-hari. Jika level tersebut ditembus secara meyakinkan, tekanan jual berpotensi berlanjut menuju US$4.236, US$4.111, hingga US$3.952.

Untuk sisi atas, resistance terdekat berada di sekitar US$4.324, kemudian US$4.412 dan US$4.521. Selama harga masih berada di bawah area resistance tersebut, bias jangka pendek XAU/USD masih cenderung bearish sehingga setiap kenaikan berpotensi menjadi peluang untuk melakukan aksi jual. Namun, para pelaku pasar perlu berhati-hati karena kondisi geopolitik yang masih dinamis dapat sewaktu-waktu meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven. Selanjutnya, perhatian utama pasar akan tertuju pada data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat yang akan dirilis pada Jumat. Data ketenagakerjaan tersebut berpotensi menjadi katalis penting bagi ekspektasi suku bunga The Fed sekaligus menentukan arah pergerakan Dolar AS dan emas dalam jangka pendek.


sumber : fxstreet