Dolar AS Melemah Tipis, Pasar Menanti Data NFP dan Arah Kebijakan The Fed

Dolar AS (USD) sedikit melemah pada perdagangan di awal pekan. Indeks Dolar AS (DXY) terkoreksi sekitar 0,12% ke level 99,5 saat berita ini ditulis Pukul 14.30 WIB di hari Senin, setelah mencatat penguatan pada Jumat sebelumnya. Pelemahan tersebut terjadi setelah Dolar mengalami kenaikan cukup tajam menyusul pidato Ketua Federal Reserve (The Fed), Kevin Warsh, di Simposium Jackson Hole. Pernyataan Warsh yang menegaskan komitmen The Fed untuk mengendalikan inflasi menuju target 2% meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan September.

Warsh menilai bahwa meskipun data inflasi selama musim panas menunjukkan perbaikan, kondisi tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa tren inflasi telah berubah secara signifikan. Fokus utama The Fed, menurutnya, tetap harus diarahkan pada perkembangan harga. Pernyataan tersebut mendorong perubahan signifikan dalam ekspektasi kebijakan moneter. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan September turun menjadi 39,4%, dari hampir 60% pada pekan sebelumnya. Kondisi ini memberikan dukungan terhadap USD dan meningkatkan daya tarik aset berdenominasi Dolar.

Perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada serangkaian data ekonomi Amerika Serikat yang dirilis pekan ini, dengan Nonfarm Payrolls (NFP) menjadi salah satu indikator paling penting. Data ketenagakerjaan yang dijadwalkan dirilis pada Jumat diperkirakan dapat memberikan pengaruh besar terhadap ekspektasi suku bunga The Fed. Data NFP yang lebih kuat dari perkiraan berpotensi memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga dan mendukung USD, sedangkan data yang lemah dapat kembali meningkatkan spekulasi pelonggaran kebijakan dan memberikan tekanan terhadap Greenback.

Di sisi geopolitik, meningkatnya kembali ketegangan antara AS dan Iran turut memengaruhi pergerakan pasar keuangan. Harga minyak WTI melonjak sekitar 2% ke US$84,35 setelah terjadi saling serang antara kedua pihak selama akhir pekan. Serangan AS terhadap peluncur roket Iran yang diduga mempersiapkan pemasangan ranjau di Selat Hormuz kemudian diikuti serangan balasan Iran terhadap pangkalan AS. Eskalasi tersebut meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global dan dapat memperkuat tekanan inflasi, yang pada akhirnya berpotensi memberikan dukungan tambahan bagi USD melalui ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih ketat.

Secara teknikal, DXY berada di sekitar 99,60 dengan bias jangka pendek netral hingga sedikit bearish. Harga masih bertahan sedikit di atas EMA 20-hari di 99,55, tetapi menghadapi resistance pada Fibonacci retracement 50% di 99,73. RSI 48,25 yang berada sedikit di bawah level 50 menunjukkan momentum bullish mulai melemah. Jika mampu menembus 99,73, DXY berpotensi menguji 100,22 dan 100,83. Sebaliknya, penurunan di bawah EMA 20-hari dapat membuka ruang menuju 99,24, kemudian 98,54, sebelum mengarah ke support struktural di sekitar 97,65.


sumber : fxstreet