Harga Minyak Tertekan di Tengah Harapan Pembukaan Selat Hormuz
Harga West Texas Intermediate (WTI), patokan minyak mentah Amerika Serikat, bergerak melemah dan diperdagangkan di sekitar US$81,02 pada awal sesi Eropa hari Kamis. Tekanan terhadap harga minyak muncul seiring meningkatnya optimisme bahwa Selat Hormuz dapat kembali dibuka melalui upaya diplomatik yang melibatkan Iran dan Oman. Jika jalur pelayaran strategis tersebut kembali beroperasi secara normal, kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak global berpotensi mereda dan mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya menopang harga WTI.
Bloomberg melaporkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran disebut telah mencapai kesepakatan pembagian pendapatan dengan Oman terkait Selat Hormuz. Perkembangan ini menjadi langkah lanjutan setelah Iran dan Oman sebelumnya membahas kerangka sementara untuk memungkinkan kembali transit kapal melalui jalur tersebut. Iran, bagaimanapun, menegaskan bahwa pembukaan Selat Hormuz membutuhkan lebih dari sekadar kesepakatan dengan Oman. Qatar juga dijadwalkan terlibat dalam upaya diplomatik untuk mendorong penyelesaian konflik yang telah berlangsung selama beberapa bulan.
Di sisi lain, risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang karena Amerika Serikat dan Iran masih memiliki perbedaan besar mengenai persyaratan untuk mengakhiri konflik. Washington bahkan mengancam akan menjatuhkan sanksi baru terhadap negara-negara yang mempertahankan hubungan ekonomi dengan Iran. Kondisi tersebut menjadi faktor yang berpotensi membatasi penurunan WTI karena setiap eskalasi baru dapat kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak. Sementara itu, persediaan minyak mentah AS hanya meningkat 95 ribu barel untuk pekan yang berakhir 21 Agustus, jauh lebih rendah dibandingkan kenaikan 4,405 juta barel pada pekan sebelumnya dan di bawah ekspektasi kenaikan 1,9 juta barel.
Secara teknikal, WTI masih menunjukkan bias bearish dalam jangka pendek karena harga berada di bawah SMA 100-hari dan garis tengah Bollinger Bands 20-periode. RSI 14-hari di 48,30 berada di area netral, menunjukkan momentum belum memberikan sinyal pemulihan yang kuat. Pada sisi atas, resistance terdekat berada di sekitar US$81,30, kemudian SMA 100-hari di US$85,20. Jika rebound berlanjut, area US$88,30 yang merupakan batas atas Bollinger Bands menjadi resistance yang lebih kuat.
Sebaliknya, tekanan jual yang berkelanjutan dapat membawa WTI menguji support utama di sekitar US$74,35, yang bertepatan dengan batas bawah Bollinger Bands. Selama harga belum mampu menembus kembali US$81,30 dan kemudian US$85,20, risiko penurunan masih relatif terbuka. Dengan demikian, arah WTI dalam jangka pendek akan sangat bergantung pada perkembangan diplomatik Iran–Oman dan AS–Iran, khususnya terkait pembukaan Selat Hormuz, karena meredanya ketegangan dapat menekan harga minyak, sedangkan eskalasi konflik berpotensi kembali mendorong WTI naik.
sumber : fxstreet
