Harga Minyak Tertekan, Risiko Geopolitik Mulai Mereda
Harga West Texas Intermediate (WTI), patokan minyak mentah Amerika Serikat, kembali berada di bawah tekanan jual selama tiga hari berturut-turut dan turun ke level terendah dalam hampir dua pekan pada perdagangan hari Rabu. WTI kini diperdagangkan di area level psikologis US$80 per barel dan berpotensi melanjutkan penurunan dari puncak bulanan yang dicapai pada Jumat lalu. Pelemahan tersebut terutama dipengaruhi oleh perkembangan positif terkait krisis Timur Tengah yang mendorong investor mengurangi premi risiko geopolitik dalam harga minyak.
Iran dilaporkan telah kembali melakukan pembicaraan dengan Oman untuk mengatur lalu lintas pelayaran komersial melalui Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak paling strategis di dunia. Di sisi lain, Amerika Serikat menawarkan kemungkinan keringanan sanksi terhadap Iran serta penghentian blokade laut dengan imbalan pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian serangan oleh kelompok-kelompok proksi regional Iran. Perkembangan ini meningkatkan harapan terhadap tercapainya solusi diplomatik dalam konflik AS-Iran, sehingga kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak mulai berkurang dan memberikan tekanan tambahan terhadap harga WTI.
Dari perspektif teknikal, tekanan bearish semakin kuat setelah WTI menembus ke bawah Exponential Moving Average (EMA) 100 periode pada grafik empat jam. Harga juga telah bergerak di bawah Fibonacci retracement 50% dari pemulihan sebelumnya, yang memperkuat indikasi bahwa momentum penurunan masih dominan. Namun, indikator Relative Strength Index (RSI) berada di level 23,15, menunjukkan kondisi jenuh jual (oversold). Sementara itu, indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) masih berada di wilayah negatif dengan pembacaan sekitar -0,65, sehingga bias jangka pendek tetap bearish meskipun peluang rebound teknikal mulai terbuka.
Pada sisi bawah, support terdekat berada di Fibonacci retracement 61,8% sekitar US$78,61. Jika level tersebut ditembus secara meyakinkan, WTI berpotensi melanjutkan penurunan menuju US$76,27 dan selanjutnya menguji area US$73,30 sebagai support struktural. Penembusan di bawah US$73,30 akan menjadi sinyal bearish yang lebih kuat dan dapat membuka ruang penurunan menuju level yang lebih rendah. Namun, kondisi oversold perlu diperhatikan karena dapat memicu aksi beli sementara atau technical rebound.
Sementara itu, pada skenario pemulihan, resistance pertama berada di sekitar US$80,26, kemudian US$81,90 dan EMA 100 periode di US$82,44. Area US$81,90–US$82,44 menjadi zona penting karena keberhasilan WTI kembali menembus dan bertahan di atas area tersebut dapat mengurangi tekanan bearish jangka pendek. Jika momentum positif berlanjut, harga berpotensi mengarah ke US$83,93 dan kemudian menguji kembali puncak siklus di sekitar US$87,22. Secara keseluruhan, bias WTI masih bearish, tetapi kondisi oversold meningkatkan peluang terjadinya rebound sebelum tren berikutnya kembali terbentuk.
sumber : fxstreet
