Harga Emas Tertekan Jelang Data PCE AS, Namun Prospek Bullish Masih Terjaga
Harga emas (XAUUSD) kembali mengalami tekanan setelah pergerakan yang berfluktuasi pada hari sebelumnya dan diperdagangkan di bawah US$4.650 pada hari Rabu. Penguatan kembali Dolar AS (USD) akibat aksi reposisi menjelang rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat menjadi salah satu faktor yang membebani harga emas. Selain data PCE, perhatian pasar juga tertuju pada pidato Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh di Simposium Jackson Hole pada Jumat. Kedua agenda tersebut berpotensi memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed dan menentukan pergerakan USD serta emas dalam jangka pendek.
Di sisi kebijakan moneter, ekspektasi pasar saat ini cenderung mengarah pada kemungkinan The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan 15–16 September, seiring meredanya tekanan inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja yang relatif lemah. Selain itu, rencana Departemen Keuangan AS untuk meningkatkan pembelian kembali obligasi jangka panjang turut menekan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Penurunan imbal hasil tersebut dapat membatasi penguatan USD karena daya tarik aset berdenominasi dolar menjadi lebih rendah. Kondisi ini pada akhirnya berpotensi memberikan dukungan terhadap emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Perkembangan geopolitik juga mulai memberikan pengaruh terhadap pasar. Harga minyak mentah turun ke level terendah hampir dua minggu setelah munculnya perkembangan positif terkait pembicaraan Iran dan Oman mengenai lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz. Harapan terbentuknya koridor navigasi sementara serta kemungkinan adanya keringanan sanksi dari AS meningkatkan optimisme terhadap solusi diplomatik dalam konflik AS-Iran. Jika ketegangan terus mereda, tekanan terhadap harga energi dan inflasi dapat berkurang. Namun, berkurangnya risiko geopolitik juga dapat mengurangi permintaan terhadap aset safe haven, sehingga arah emas tetap bergantung pada keseimbangan antara faktor geopolitik, USD, dan ekspektasi suku bunga.
Secara teknikal, tren emas masih menunjukkan bias bullish meskipun harga menghadapi tekanan jangka pendek. Penembusan sebelumnya di atas area US$4.500, yang berdekatan dengan SMA 200-hari dan Fibonacci retracement 38,2%, menjadi sinyal positif bagi pembeli. Namun, harga masih kesulitan menembus dan bertahan di atas level Fibonacci 50%. Selain itu, RSI 14 berada di sekitar 72, yang menunjukkan kondisi jenuh beli, sehingga peluang terjadinya konsolidasi atau koreksi jangka pendek semakin terbuka. Di sisi lain, indikator MACD masih berada di wilayah positif sehingga tren kenaikan belum menunjukkan tanda pembalikan yang kuat.
Untuk skenario bullish, harga emas perlu menembus dan bertahan di atas US$4.700. Jika berhasil, penguatan berikutnya berpotensi mengarah ke US$4.856, kemudian US$5.104, sebelum menguji area puncak siklus sekitar US$5.421. Sementara itu, pada skenario koreksi, support awal berada di sekitar SMA 200-hari US$4.522 dan Fibonacci 38,2% di US$4.508. Jika area tersebut ditembus, tekanan jual berpotensi membawa XAU/USD menuju US$4.292 dan selanjutnya ke area US$3.944. Dengan demikian, bias emas masih cenderung bullish, tetapi investor perlu mewaspadai koreksi jangka pendek menjelang data PCE AS dan pidato Kevin Warsh di Jackson Hole.
sumber : fxstreet
