Dolar Bertahan di Level Terendah Multi-Bulan, Pasar Menanti Jackson Hole dan Sanksi Iran
Dolar AS bergerak di dekat level terendah dalam beberapa bulan pada perdagangan Senin, dengan investor mempertimbangkan dampak rencana pembelian kembali obligasi Pemerintah AS serta meningkatnya risiko perdagangan dan geopolitik. Indeks Dolar AS (DXY) naik tipis 0,06% ke 98,82 saat berita ini ditulis Pukul 14.25 WIB, tetapi masih berada di dekat level terendah sejak pertengahan Mei 2026. Pada pekan sebelumnya, DXY telah melemah hampir 1%, menunjukkan tekanan bearish terhadap Greenback masih cukup kuat.
Sentimen terhadap USD juga dipengaruhi oleh kebijakan Departemen Keuangan AS yang berencana setidaknya menggandakan pembelian kembali obligasi pemerintah jangka panjang menjadi US$4 miliar per operasi. Kebijakan tersebut sempat mendorong imbal hasil obligasi turun, tetapi belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran terhadap kondisi pasar obligasi AS. Utang federal AS telah melampaui US$40 triliun, sementara defisit anggaran mendekati US$1,8 triliun. Kebutuhan pembiayaan yang besar berpotensi meningkatkan pasokan Treasury di pasar dan menjaga tekanan terhadap imbal hasil jangka panjang.
Perhatian investor selanjutnya tertuju pada sejumlah agenda penting, termasuk laporan keuangan Nvidia dan pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam Simposium Jackson Hole. Pernyataan Warsh berpotensi memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter AS dan memengaruhi ekspektasi suku bunga. Jika pasar menangkap sinyal dovish, tekanan terhadap USD berpotensi semakin besar. Sebaliknya, pernyataan hawkish dapat memberikan ruang bagi Dolar AS untuk melakukan pemulihan dari level rendahnya saat ini.
Di pasar valuta asing, pelemahan USD memberikan dukungan terhadap sejumlah mata uang regional, meskipun penguatannya masih terbatas akibat meningkatnya risiko geopolitik dan ketidakpastian kebijakan AS. USDJPY bergerak relatif datar di sekitar 159,00 menjelang komentar Wakil Gubernur Bank of Japan Ryozo Himino. Sementara itu, USDCAD naik sekitar 0,4% setelah pembicaraan perdagangan AS-Kanada gagal mencapai kesepakatan dan AS menerapkan tarif 50% terhadap barang Kanada senilai US$20 miliar. AUDUSD juga melemah tipis sekitar 0,1%.
Selain itu, pasar menantikan rincian sanksi baru AS terhadap Iran yang akan disampaikan Menteri Keuangan Scott Bessent. Investor terutama mencermati kemungkinan sanksi tersebut membatasi ekspor minyak Iran dan memperketat pasokan energi global. Harga minyak sendiri turun lebih dari US$1 per barel akibat aksi profit taking menjelang pengumuman tersebut, meskipun risiko di sekitar Selat Hormuz tetap menjadi perhatian. Secara keseluruhan, bias DXY masih cenderung bearish selama belum mampu kembali menembus resistance penting, tetapi risiko geopolitik, perkembangan pasar obligasi AS, dan sinyal kebijakan The Fed dapat memicu volatilitas tinggi dalam perdagangan berikutnya.
sumber : investing
