Harga Minyak Terkoreksi, Setelah Naik Dua Hari Beruntun
Harga West Texas Intermediate (WTI) mengalami koreksi setelah mencatat kenaikan selama dua hari berturut-turut dan diperdagangkan di US$85,39 per barel saat berita ini ditulis Pukul 13.25 WIB pada hari Senin. Penurunan tersebut diperkirakan merupakan aksi profit taking dari para pelaku pasar menjelang pengumuman Amerika Serikat mengenai kemungkinan penerapan sanksi yang lebih ketat terhadap Iran. Meskipun mengalami koreksi, harga minyak masih berada pada level yang relatif tinggi karena risiko gangguan pasokan global tetap menjadi perhatian utama.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa Washington berencana menerapkan sanksi yang disebut sebagai “terkeras” dalam sejarah untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran dan mitra dagangnya. Kebijakan tersebut berpotensi semakin memperketat pasokan minyak global, terutama ketika pengiriman minyak Iran sudah menghadapi berbagai hambatan dan penjualan kepada pembeli di Tiongkok mengalami penurunan. Kondisi ini menjadi faktor fundamental yang masih memberikan dukungan terhadap harga WTI dalam jangka pendek.
Di sisi lain, Iran menolak ancaman sanksi tersebut dan menegaskan bahwa negaranya memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi blokade serta tekanan ekonomi. Ketegangan di sekitar Selat Hormuz juga masih tinggi, sementara lalu lintas kapal di jalur strategis tersebut masih berada jauh di bawah rata-rata historis. Commerzbank menilai perkembangan di Selat Hormuz tetap menjadi perhatian utama pasar energi. Selain faktor geopolitik, kondisi persediaan juga perlu diperhatikan, khususnya persediaan diesel yang masih relatif ketat dan berpotensi memberikan dukungan tambahan terhadap harga minyak.
Secara teknikal, WTI masih menunjukkan struktur bullish meskipun mengalami koreksi ringan. Harga bertahan di atas EMA 9 periode di US$83,91 dan EMA 50 periode di US$81,62, yang menunjukkan bahwa tren kenaikan jangka pendek masih terjaga. Sementara itu, RSI 14-hari berada di 56,06, mencerminkan momentum positif yang masih sehat dan belum memasuki wilayah jenuh beli. Dengan demikian, koreksi yang terjadi saat ini masih lebih berpotensi menjadi pullback daripada indikasi pembalikan tren.
Selama WTI mampu mempertahankan harga di atas area support US$83,91, tekanan bullish masih memiliki peluang untuk berlanjut. Jika terjadi koreksi yang lebih dalam, US$81,62 menjadi support berikutnya yang penting untuk diperhatikan. Dari sisi fundamental, perkembangan sanksi AS terhadap Iran, kondisi Selat Hormuz, serta data persediaan minyak akan menjadi katalis utama bagi pergerakan berikutnya. Secara keseluruhan, bias WTI masih bullish, dengan peluang penurunan lebih lanjut cenderung menjadi kesempatan bagi pembeli selama support utama tetap bertahan.
sumber : fxstreet
