Indeks Dolar AS Tertekan, Prospek Bearish Masih Mendominasi
Indeks Dolar AS (DXY) kembali mengalami tekanan pada perdagangan di hari Jumat setelah sebelumnya mencatat rebound moderat dari area pertengahan 98,00. DXY saat ini bergerak di sekitar 98,6, turun sekitar 0,10% pada hari tersebut dan berada di dekat level terendah sejak 14 Mei 2026. Dengan kondisi tersebut, indeks Dolar AS juga berada di jalur untuk mencatat penurunan mingguan yang cukup signifikan.
Tekanan terhadap USD terutama berasal dari berkurangnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat. Data inflasi AS yang lebih lemah pada pekan sebelumnya membuat pelaku pasar menilai tekanan harga mulai mereda, sehingga mengurangi daya tarik Dolar AS. Sementara itu, pengumuman Departemen Keuangan AS mengenai rencana peningkatan operasi pembelian kembali utang jangka panjang hanya memberikan dampak positif sementara terhadap USD sebelum perhatian pasar kembali tertuju pada risiko inflasi dan perkembangan harga energi.
Harga minyak mentah yang meningkat ke level tertinggi tiga minggu turut menjadi faktor yang membuat prospek USD lebih kompleks. Kenaikan harga minyak dipicu oleh meningkatnya ketegangan AS-Iran setelah Presiden Donald Trump mengancam akan menerapkan tindakan ekonomi yang sangat berat terhadap Iran serta memberikan sanksi kepada pihak-pihak yang membantu Teheran menghindari sanksi. Kondisi tersebut menjaga premi risiko geopolitik tetap tinggi dan berpotensi memberikan dukungan terhadap USD sebagai aset safe haven, sehingga dapat membatasi tekanan penurunan DXY.
Di sisi lain, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed masih menjadi faktor yang berpotensi menahan pelemahan Dolar AS. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar masih memperkirakan sekitar 68% peluang The Fed menaikkan suku bunga setidaknya sekali hingga akhir tahun. Ekspektasi tersebut membantu mempertahankan imbal hasil obligasi AS pada level tinggi dan berpotensi memberikan bantalan bagi USD. Oleh karena itu, meskipun DXY masih berada dalam tekanan, pelaku pasar perlu berhati-hati sebelum mengantisipasi penurunan yang lebih agresif.
Secara teknikal, bias jangka pendek DXY masih bearish karena indeks berada di bawah SMA 200-hari di sekitar 99,16 serta beberapa level Fibonacci penting. Kegagalan mempertahankan level Fibonacci 78,6% di 98,52 sebelumnya membuat DXY lebih rentan terhadap tekanan lanjutan. Namun, apabila terjadi rebound, area 99,16–99,22 menjadi resistance penting yang terdiri dari SMA 200-hari dan Fibonacci 61,8%. Selama DXY belum mampu menembus dan bertahan di atas zona tersebut, tekanan bearish masih lebih dominan dan peluang pengujian kembali area 98,52 tetap terbuka.
sumber : fxstreet
